Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

KERIUHAN DI SENYAP HATI

Katanya cerpen (lagi dari) WIKO ANTONI  Japri bukan nama yang keren. Bahkan, di kelas SMA dulu, nama itu sering dijadikan bahan candaan. “Japri—jalur pribadi,” kata teman-temannya sambil tertawa. Ironisnya, sekarang, di usia tiga puluh dua, makna jalur pribadi itu benar-benar hidup dalam dirinya: ia mencintai seseorang secara pribadi, diam-diam, dan sepenuhnya rahasia. Namanya Lusi Prameswari. Wanita dengan senyum yang seperti spons iklan pasta gigi: terlalu putih untuk jadi nyata, tapi entah kenapa membuat dada Japri berdebar seperti modem zaman 2000-an yang susah konek. Setiap malam, Japri membuka Instagram Lusi. Ia scroll dengan hati-hati, seperti orang membuka kitab suci yang ia tahu tak pantas ia baca. Foto Lusi di kafe, di pantai, di pesta. Caption-nya kadang berisi kalimat motivasi berbahasa Inggris patah-patah: “Be yourself, but better version of you.” Japri ingin menulis komentar, “Aku mau jadi versi terbaikku, tapi versiku gak punya uang.” Namun ia tahan. Ia hanya menekan...

Di Batas Fana

Puisi Karya WIKO ANTONI  Berdiri dalam kabut nan tak pernahlah usai  Samar menuju cahaya bercahaya dibalik rahasia  Megeja eja laluan nan menghantarkan ke destinasi  Ini keniscayaan nan bukan kemahuan Dah gigil di gerimis  Dah letih di terjal daki dakian Tak faham akan arah nan mengelam Namun mesti tak suka ia terus bergulir jua Sesak nafas cinta pada pandangan palsu Dikungkung raga nan banyak pinto pintak Namun azali keinginan bagaikan api Membakar namun kian mendinginkan  Itu nan di kata api suci penebusan  Ruang ini adalah ilusi  Tuju itu ketiadaan  Asbab semua nan nyata cumalah bayang Nan menjerat segala ambisi kelam Senyum dikau pagi ini Hanyalah wajah indah namun Tiada  Sebab tanah diukir jadi daging Bukan hakikat abadi nan sejati  Semua nyata adalah maya Segala ada cumalah bayangan  Cinta sejati sang maya suci Tersimpan jauh diketiadaan  Di sunyi sepi Di rahasia demi rahasia  Nan berdegup tiap saat Rantau panja...

HUJAN MALAM RINDU

HUJAN MALAM RINDU (Katanya Cerpen oleh Wiko Antoni) Hujan turun malam itu. Lembut, tapi mengguncang dada Rantau. Ia duduk di teras rumah kayu yang nyaris lapuk, menatap cahaya lampu yang bergoyang karena angin. Di dalam rumah, Laras — istrinya — menanak nasi sambil bersenandung lirih. Suara itu, seharusnya menenangkan, tapi justru membuat dada Rantau sesak. Entah sejak kapan ia mulai meragukan cinta istrinya. Bukan karena Laras berubah, tapi karena dirinya sendiri yang mulai goyah. Setiap malam, ia merasa jauh — seperti ada tembok tak terlihat di antara mereka. Laras tetap lembut, tetap setia, tapi entah kenapa senyum itu terasa terlalu sabar untuk seorang wanita yang benar-benar mencinta. Apakah ia hanya menahan demi status istri? Pertanyaan itu menampar jiwanya tiap kali Laras memeluknya dalam doa malam. Lalu datanglah Hani — wanita kota yang dulu sempat memuja puisinya. Hani bukan sembarang wanita. Cantik, berani, dan tahu cara bicara yang menembus celah keyakinan. Ia menulis pesan ...

HUJAN MALAM RINDU

 Puisi Wiko Antoni  Hujan Malam Rindu Siapa nan menderu bersama air Menerjang bersama angin Menghempas bersama ombak Berdegup Bersama jantung Berbisik di dada terdalam Tentang kecemburuan nan menggelegak Cinta yang diam Dan kesetiaan nan tak menuntut Menggerakkan yang diam Mendiamkan keriuhan Terus terus dan terus Memastikan keabadian Rindu ini api Rindu ini sepi Rindu ini sunyi Rundu ini abadi Kau dan aku satu Dalam cinta sendu Namun tak pernah berpadu Karena itulah kemauan mu Saat daun gugur Kau yang memanah kuasa Saat bumi berguncang Kau nan menatap tajam Gemetarlah daku Terhempas lah hamba Nak pergi kemanapun Hanya dikau jua 17-10-25

RANTAU SANG LARAS NOVELLA WIKO ANTONI

 Katanya Novella Karya Wiko Antoni  RANTAU SANG LARAS Bagian 1 Orang-orang kampung menyebutnya “Si Gila Hening”. Setiap sore, setelah azan asar, ia berjalan pelan ke tepi sungai tua di belakang bukit, tempat batu-batu berlumut dan airnya sejuk seperti doa yang tak pernah selesai. Ia duduk di sana, berbicara pada pepohonan, dan sesekali tersenyum pada aliran air yang berkilau di bawah cahaya matahari sore. “Dia bicara sama jin,” kata anak-anak kampung. “Dia gagal di kota, makanya sembunyi di hutan,” sambung orang dewasa. “Lihat tuh, katanya dulu pintar, sekarang gila,” tawa mereka memotong langit sore. Tapi lelaki itu, Rantau namanya, tidak membalas. Ia hanya menunduk, seperti orang yang sedang mendengarkan bisikan yang lebih dalam daripada suara manusia. Di dadanya, ada luka yang tidak ingin dibicarakan. Di matanya, ada langit yang tak bisa dimengerti. Bertahun-tahun lalu, ia memang meninggalkan kampung itu dengan sumpah: akan kembali membawa nama, harta, dan kehormatan. Dan i...

HINAAN JUA CACIAN

  PUISI Wiko Antoni  HINAAN JUA CACIAN nak cuba bedakan kata tikam atau sanjungan Muaranya sama jua tak ubah kenyataan Nan pasti tinggi bintang bukan hamba Dan rendah lembah bukan pula daku Berseri bunga harum mewangi Ia pula hanya hiasan alam Gersang gurun pasir nan panas Cuma tempat raga merasa seksa Jiwa disitu situ jua Tak beranjak tiada beralih Setiap mata menatap fana Setiap hati tersaput hijab Nan tahu hamba hanyalah Dia Tentang suci dan nodaku Tanah nan dipijak saban hari Dia muasal segala nan terlihat Langit nan tinggi menjulang Hanya kosong tiada batas Dari semua nan dianggap berharga Menyau keinginan dan mata Nyatanya saat ditimang hakekat Tak ada makna sedikit jua Cinta adalah yang utama Diatas semua nan ada berada Sebab dari nan tampak maupun sembunyi Dicipta karana cinta semata adinda Pulang akan jauh Sedang pergi akan kehilangan Maka tetap pada diri Memeluk sang sejati jiwa

Air Pemurnian dan Api Suci

Puisi : Wiko Antoni AIR PEMURNIAN DAN API SUCI Ketika hempas datang menghantam sukma Pastikan adinda aku ada disana Biarlah jasad di seberang lautan Makhrifat jiwa tak pernah jauh Api bakar amarah membakar noda Air mengalir di mata sucikan jiwa Sebab duka maupun suka dua sisi sama Balik berbalik satu jua Usah nak jauh mengembara Balik ke Diri adalah utama Kembara hanya sang sejati cinta Lainnya cuma fatamorgana Di horizon impian manusia fana Kuasa manusia kehendak semata Tak terjangkau usah nak hilang asa Di mahu nan tiada kita Tahu Rahasia sang abadi tertulis suci Jan lelau akan derita Usah menolak tetapan menimpa Cinya sejati dalam diri Tak penah jauh tak pernah pergi Bak itu jua kasih sayangku Brsendi amanah Sang Maha Cinta jatuh tegak berdiri Walaupun goyah melangkah lagi Hidup kematian panjang Sedang ajal adalah awal penghakiman Mari pulang dan berbenah Untuk sadari makna CintaNya rantau panjang 16-10-25

SETEGUK RACUN MANIS

🌿🌿🌿🌿Seteguk Racun Manis PUISI WIKO ANTONI  Hidup ini pejamuan kejam Hidangan lezat terhampar untuk dinikmati  Aroma nan mengundang selera Kezatan fana nan menjerat  Nyata tiap cawan adalah racun  Tiap pinggan adalah tuba Nan membunuh hati diam diam Melumpuhkan akal pelan pelan Bila dah masuk dalam badan Wajahpun tak kan lagi sama Apa pula jasad dan jiwa Kita kan jadi orang berbeda Dari datang awal semula Racun nan menggigit  Tuba nan menghisap Mata kian rabun oleh silau silauan  Langkah tak lagi di jalan sebenar dulu  Memburu racun penyebab candu Terus. Terus. Terus.   Sampai sisa usia tergerus  Inilah orang kata Jebakan perangkap sang jiwa Pada rasa nan tak tahu kemana pulang. 🕡🕡🕡🕡🕡🕡🕡🕡🕞🕒🕕 Halaman sang sejati 5/9/25

Dukau Kah Adinda

 Dikau Kah Adinda  PUISI WIKO ANTONI  aku lupa pada tempatmu di hati Apakah ini pengkhianatan? Kau mestinya mengerti  Aku bukan lagi lelaki lemah Yang bisa kau miliki  Dah cukup retak jiwa Pecah bederai tangis di batu Namun bak meraba kabut Hanya bayangan nan hamba genggam  Seolah nyata ini Tiada lagi Dada kurasa penuh sudah Hangus hancur luluh luka Namun perjalanan masih jauh  Memburu waktu nan berlari  Sementara gerimis tempias si pelataran  Bayang mawar wangi racun  Silau cahaya Hanya ilusi  Nyata taka mengembun di rerumputan  Karana abadi itu sang Tiada Dan bayangan ini samg Maha Ada Kaukah Adinda  Nak paksa aku dipelukan  Tak akan kau kuasa meiliki daku  Nan dah lepas dari segala ambisi Rantau panjang 15-10-25

SANG PEMELUK SETIA

 Puisi Wiko Antoni  SANG PEMELUK SETIA kekasih aku tak bisa lepas Dari keinginan pergi darimu Namun kaki tak mampu melangkah Jiwa tak sanggup berpisah Sayangmu jerat kan daku Cintamu penuh cemburu Lekat selalu awasi diri Tak bisa anjak berlalu pergi Diman tatap kau lihat diri Dimana sembunyi kau buru jiwa Tak bisa aku nak pergi lagi Tewas terkapar cinta

MATA LUKA CINTA BARA

WIKO ANTONI  MATA LUKA CINTA BARA Api sejuk membakar jantung Saat rasa dan asa bertarung Kemana arah kemana sabung Hanyalah pilu hubung berhubung Dikau kata aku milikmu Tapi mengapa tercampak pilu Bila tiada ruang jiwamu Mengapa untuk ku kau buka pintu Disni resah buncah membuncah Menilik asmara berkecai pecah Tak ku faham makna gelisah Disiram embun terbakar sudah Biarlah burung bernyanyi sunyi Daku mendekap si mantera suci Orang kata di kalimah sakti Ada ucapan tiada arti

MENUJU CAHAYA

 Menuju Cahaya  Makna berbaris dihadapan  Menulis hidup sebagai kitab Tak henti bercerita bernyanyi berpuisi  Di laluan di harapan di angin berdesir  Kekuatan sebenarnya adalah kelemahan  Kesetiaan sebenarnya adalah melepaskan  Keinginan sebenarnya adalah ketiadaan  Kehidupan sesungguhnya dialah kematian  Jalan sunyi adalah cinta  Riuh rendah adalah ambisi  Tadahan tangan adalah kemuliaan  Bila tepat tuju pengharapan  Kabut menyelimuti hasrat mati Gelap menyembunyikan kejahatan jiwa Namun yang abadi tetap suci Di api nan mengembalikan kembara Rantau panjang 14-10-25

ANIMA

 Puisi: ANIMA Oleh: Wiko Antoni aku bersalaman dengan Tangan Tuhan tapi tiba-tiba tangan itu adalah cermin diri sendiri saat aku ingat betapa cantiknya aku akhirnya tahu bidadari itu ada dalam diri lantas apa yang aku buru? syurga yang tak ada atau jemari lembut nan tak terlukiskan dan mereka masih sibuk menghitung jasa-jasa mereka pada Tuhan --- Catatan: Tangan Tuhan jadi cermin → visual absurd: tangan ilahi memantulkan wajah pembaca sendiri. Bidadari dalam diri → absurd tapi filosofis: pembaca tersadar bahwa keindahan hakiki selalu ada di dalam, bukan di luar. Syurga tak ada vs jemari lembut → komedi eksistensial: kita mencari simbol tak tergapai, padahal keindahan yang nyata tak bisa dipegang. Mereka menghitung jasa → ironi absurd: orang sibuk skor-keeping spiritual, lupa nikmati cahaya nyata.

SAYANG KAU DISAYANG

Puisi Wiko Antoni SAYANG KAU DISAYANG Aku merasakannya kecewa bunga Namun indah tak semata dipandangan Indah itu di cahaya menyilaukan Dibalik cahaya nan lebih cahaya a Hamba tahu luka mu wangi Lihat wajahku nan penuh ruam Kau boleh  cerminkan sakitmu Di tiap gurat senyum derita Namun adinda Nan Tampak tak seperti nan terlihat Nan nyata tak seirama nan terasa Dibalik luka, sakit dan patah Ada kekuatan nan sedang Bangkit Membina dirimu menjadi dewasa Tak usah takut lepaskan air mata Karena ia penyucian jiwa Bunuh amarah dan putus asa Ia hanya membuat kau lupa cinta sejati Aku disana. Tetap di sana demi senyum manis mu Kala pagi menyinari Usah mundur oleh ancaman Usah lari dari tantangan Bila pembenci membawa dengki Tandanya kau berapa diatas mereka Bila iri mencurangi Bukti kau tak mudah dikalahkan Dari tebing dan jurang antara kita Aku kirim kau dzikir Sunyi Bangkit lagi buktikan diri Rantau panjang 14-10-25

HORIZON TAK BATAS

Puisi Wiko Antoni Horizon Tak Batas Meniti waktu nan berlalu Dalam pilu sedan sedu Harap berlari mimpi memburu Dalam asa penuh rindu Mencari dilorong sepi Titis air mata tak henti Dan cinta bukan belati Namun ilusi mimpi mimpi Andai kau masih disisi Mengisi laluan tak bertepi Menyanyikan lagu dan diksi Melipur lara iris nyeri Namun sekejap kau hilang Menjadi kabut berbayang-bayang Memisahkan kasih jua sayang Dalam ratap teratai malang Tahulah aku Apa aku bagimu Tak lebih hanya peradun tuk singhah lalu Kemudian kau musnahkah di ingatan syahdu Dan kini Usai badai dalam diri Masih ku eja luka hati ini Dengan do a pada sang sejati Moga duka kadi kasih abadi Dan luka jadi kembang laluan mewangi Rantau panjang 13-10-26

PULANG PADA DIRI

Puisi Wiko Antoni  PULANG PADA DIRI  Jauh diri kembaramu ke bukit, pantai dam lembah Namun yang kau cari hanya dalam diri Tak pergi tak menjauh namun menatap sunyi dan resah Menunggu kau pulang dari perjalanan kosong nan tak makna Rindu disana. Cinta asmara. Sayang dan kasih. Kala kehidupan menyisih mu di kehilangan  Nan ada dalam diri tak pernah mencaci dan mengutuk Hanya meminta kau kembali menatap cinta sebenarnya  Kau tak pernah dimana kemana  Hanyalah disini riuh sunyi nan berdegup tak henti  Mata nan menembus alam kabut azzali Menuntun pada makna asmara sunyi Jauh langkah' kaki tapi hakikat tak bisa pergi Waham, anima dan proyeksi  Bertarung dalam pemaknaan dan perkelahian panjang amigdala Sementara dalam dada dengan bisu sesuatu bicara  Bahwa aku tak akan pernah bisa pergi Rantau panjang 12-10 -25

Tangan Tuhan nan Membelai

Puisi Wiko Antoni  TANGAN TUHAN NAN MEMBELAI  jemari lembut di temali jantungmu Memaksa kau mengorbankan diri Untuk aku, dia dan mereka  Tanpa tahu kenapa kau lakukan itu Dan senyum nan lepas di air nata nan ditelan Adalah cahaya diatas cahaya  Nan sering aku lupa azzali-Nya Setiap desah nafas degup jantung Aku yang kau hembuskan jadi nafas yang hangat  Mata itu mengalir bahagia Saat pertarungan maut kau lewati  Dan hadiah pertaruhan itu adalah Aku... Ya aku. Dan kini tersenyum dengan rengekan manja Meskipun keras hidup telah memburuku Kedewasaan hempas kematangan perjalanan  Tapi di peluk nan penuh kasih  Damai itu sama seperti dahulu  Masa dekapmu menghiasi perjalanan kanak kanak ini Di malam malam nan sepi Ada cinta silih berganti  Namun satu tak tergantikan  Ketulusan tanpa pandang apa Dan cinta nan hadir tak tahu kenapa  Rantau panjang 13-10-25

MENGEJA LALUAN

Puisi: Wiko Antoni  MENGEJA LALUAN semalam anima menyapa Bersenandung bersama waham waham Dan impian nan tak sudah  Pengharapan nan masih berpelukan  Dengan kata sia sia Siapa nan katakan makna maka sepi Tergores di kanvas zaman Namun wajah bunga bukan nak pulang Tapi mengesan sahaja sekejap pergi Dan menangis lagi Setia itu hanya jiwa  Jasad selalu dimainkan perintang  Kasih sejati hanya sang sejati  Sedang fana hanya igauan Disini kisah terus ditulis  Disana lagu laguan kian sumbang  Tak boleh salah tak boleh silaf Padahal cinta bukan paksaan Nan menanti diujung jalan Menabur kembang kemboja Nan menunggu dinafas cinta  Hanyalah harapan tak berkepastian  Aku cuma mau berikrar  cinta bukan untuk dikoa koar Namun dirasa dan di jaga Dalam ruang gelap sukma terdalam  Bangko 13-11-25

Intan Raga

Puisi Wiko Antoni ------------------------------- engkau dipuja dimanja manja bunga mewangi taman asmara putri sejati belahan jiwa  pelita sukma sepanjang masa kekasih hati indah berseri  putri sejati nyata di mimpi indah merona jua pesona membawa damai di tatap mata wahai intan  cemerlang cahaya jiwa nan menjadi puja di sudut hati pengisi kosong sukma merana pelipur lara sepi dan duka engkau kasih jiwa nan tersisih  tak terganti di sudut hati cahya abadi penghias diri sebagai marwah hayatku ini usah berduka jan nak melara tak aku sudi membiarkanmu setitik saja air matamu tak aku sudi jatuh ke bumi

SUNYI SANG CINTA

Puisi Wiko Antoni  berhembuslah dikau wahai angin menampar wajah malam nan sendu meratap hamba di peluk dingin  bersenandung jiwa di batu beku bergetarlah dikau dada manakala tersentuh balik luka lama nak Cuba hapus kenang kenangan namun tersentuh jejak perih pulang akulah sepi itu  aku pula perih syahdu nan memuja dikau disunyian meraba hampa di kekosongan  dikau cinta abadi tak luput lupa  dikau kasih tak pernah mengirim dendam dalam asmara  nak tiada nak selam tinggi suci nan tiada tuk dibanding bila cemburumu meruak resah bergetar rasa menikam rasa bila senyum mu menatap mesra bertapa aku terbakar rindu menyala

SURYANI

 Puisi Wiko Antoni  sanga mawar apa sebenarnya nan terjadi sampainya hati menikam diri dengah azam duri berduri sang cinta  kemana arah pandang kaseh hingga hamba tenggelam didada malam bersama hujan tiada henti  masihlah  akan menanti jua kepastian kata dan mana menggenggam mimpi sepi ini dihati penuhlah gores lara tangisan dah pecah dibatu harapan dah bederai kaca mengapa  kau berikan teka dan teki nan tak sudah berkesudahan  kini setelah kita jauh nak gapai kau didada Luluh  masih datang ingatan lalu tentang sapa jua senyummu 

SEPI MAWAR CINTA

Puisi Wiko Antoni  sang mawar apa sebenarnya nan terjadi sampainya hati menikam diri dengah azam duri berduri sang cinta  kemana arah pandang kaseh hingga hamba tenggelam didada malam bersama hujan tiada henti  masihlah  akan menanti jua kepastian kata dan mana menggenggam mimpi sepi ini dihati penuhlah gores lara tangisan dah pecah dibatu harapan dah bederai kaca mengapa  kau berikan teka dan teki nan tak sudah berkesudahan  kini setelah kita jauh nak gapai kau didada Luluh  masih datang ingatan lalu tentang sapa jua senyummu 

Siklus Jiwa

 Cerpen WIKO ANTONI  Nur berjalan di lorong yang semakin gelap, namun cahaya tetap menempel pada bayangannya. Ia tidak tahu apakah cahaya itu miliknya atau milik lorong. Setiap langkahnya memanggil suara-suara yang tak pernah ia kenal, suara dari masa lalu yang belum pernah ia lalui. Lorong itu tampak seperti memiliki nyawa sendiri, dengan dinding yang berdenyut lembut seperti jantung yang berdetak. Setiap denyutnya memecah bayangan Nur menjadi ribuan potongan cahaya yang beterbangan di udara. Potongan-potongan cahaya itu berbisik, dan Nur mengerti bahwa setiap bisikan adalah fragmen dari dirinya yang telah hilang dalam perjalanan waktu yang tak terhingga. Ia terus melangkah, dan lorong itu semakin panjang, seolah-olah tidak ada akhir. Pintu-pintu mulai muncul dan menghilang di sepanjang dinding lorong, masing-masing membawa ke dimensi yang tak mungkin diingat. Nur merasa penasaran dan sedikit takut, tapi rasa ingin tahunya lebih besar. Ia mencoba membuka beberapa pintu, tapi ...

Ulang Lara

Puisi Wiko Antoni  ---------------------------- mawar itu layu lagi hati ini luka lagi Bersama kabut dan angin sertai gerimis jiwa kisah itu pulang jiwa  kesakitan nan tak reda seiring tikam katamu  terasa masaara dah pulang  sampai ya hatimu  menikam lidah di dada hampa  sangat terlalulah angkau asami lagi keringnya luka apalah dayaku kini tersungkur tak daya sendiri  sedang kau riangnya nak kata bahwa aku sudah salah jak semuala bila dak nak sembuh kan hamba  mestinya tak tambahkan lara namun mungkin takdir jiw tak dapat aku nak. berkata apa dalam luka dada ini. ruam rezam tapak kaki biarlah aku pergi bersama sisa asa ini mungkin di suatu hari  aku akan sembuhkan diri  sementara kau akan rasa i hilang nya cinta dalam diri 

Akulah Tujuanmu

 PUISI WIKO ANTONI  akulah embunmu di kering jiwa  akukah kabutmu di resah lara  karana aku hadir dalam ribut dan resah takdir mu akulah tujuan cintamu aku jua muara rindu rindu mu aku cinta sejati mu pelipur segala duka laramu usaikan kisah lalu pilu  tinggalkan  sakit luka lama hapuskan  air mata dan duka sambutlah jari ini. bersama masa depan katakan padaku bahwa semua dah usai rasakan damai hari ini dengan aku lepaskan senyuman dan bahgia untuk ku masa dinuka penuh cahaya Gilang gemilang 

Harimau Melayu

 PUISI WIKO ANTONI  HARIMAU MELAYU  aku bukanlah pecundang  beta seorang pejuang  pewaris darah melayu melangkah tak kenal ragu aku bukanlah peraung hamba seorang petarung  tak cemas aral dan cuba merentak hempas penghalang  lelaki Melayu tak mudah patah meradang menerjang demi tujuan  bersendi adat bersandar tekad demi adat budaya Tempatan  rentak kan kaki  tetapkan tekad hidup bukan tuk berdiam tapi menyatakan impian lelaki melayu melangkah maju tiada bimbang tiada ragu singkirkan aral nan lintang melintang  menuju tuju tiada ragu Harimau Melayu

Mata Air Cinta

jelma an bayangan kekasih menurih perih hati tersisih  dah ancau dada.di sesak buih memeluk luka lukaan nan pedih sayang sebenarnya apa nak kau cari umpama mengejar bayang kebut dikelam Rinai  isak dan sedu menjadi irama di sepi diri meruak segala ingatan lama nan menoda mencedera i daku bukan nak menagih kata atau pula janji nan dah jadi abu tapi mengapa jumpa jumpa lalu seakan menjadi kisah sakit tak bisa sirna. andai kau tahu betapa dada masih berharap lagi biar jasad Zahir nyatanya terus melangkah pergi nak balikpun pintu dah angkau kunci  memaksa aku pulang pada luka dalam diri terbayang bayang  senyuman mu kaseh terngiang-ngiang  tuturmu duhai cinta  tapi itu hanya igauan sahaja nan tak mungkin nak balik semula kusadari kini semua mustahil nak jadi asbab kau tiada lagi ada di sisi aku hanya kirimkan dikau do a semoga bahagia sepanjang masa aku hanya kirimkan pohon agar ma af darimu jadi pengiringan langkah langkah sepi ini.

FANA BUKANLAH ASA

 Puisi Wiko Antoni  wajah wanita nan menanti jawab bagaikan mendung menanti hujan dan Rinai namun tak basah bak itu engkau di pacu rindu sang sejati menjerat dada di bunga bunga taman laluan silauan ini tak nak buatkan daku nan pulang kepada diri  daku dah puas dihempas kasih  di puja jua acap di sisih namun seribu pengharapan  dalam azalli mu akan akan hiraukan  sendikan cinta pada segala cinta  sambungkan rindu pada Segala rindu  aku ditimpa cinta Segala cinta maka tak kuasa buat membagi rasa tataplah cahaya diatas cahaya nan membakar Semua insan fana dan kau genggam wanginya bunga bunga nan kusiram dengan ikhlas selamanya 

RASA DAH PUNAH

Puisi Wiko Antoni  Di kelam lalu laluan panjang, Sunyi menitip silau silauan. Gerimis membasah gigi gigil, Hati resah luka-lukaan. Menitipkan rindu sendu, Dari wajah kian sayu. Menatap tanpa rasa, Di pudar asa dara. Aku bukan penghamba rasa, Namun melupakan kau tak bisa. Aku bukan kekasih setia, Namun di hadapanmu tak kuasa. Ini rasa nan dah punah, Namun membekas luka nanah. Di tepian telaga dendam, Cinta pulang ke azalinya. Biarlah sunyi jadi saksi, Bahwa cinta tak pernah mati. Dalam luka, dalam sepi, Kembali ke asal nurani.

MERAUNG

Puisi Wiko Antoni  Pekik sunyi lelaki malam Dipeluk Kenangan hitam legam Namun dak tahukah engkau  Inilah si pemuja dikau dengan doa Dah habis kikis asa dan rasa Kering punah si air mata Masih jua kabut menutupi mata Menghalangi tatap suci rindu azali Udah dikau tangisi Daku nan meraungkan cinta Udah engkau nak peduli  Bening titik di pelipis mata Dah ku tempat Rasa ini di batu rindu Dah ku tulis  Namamu di langit biru Aku memuja bukan sekedar puja Aku merindu bukan sekedar kasih Karana aku adalah seorang pria Nan di paksa memeluk jiwa melepaskan raga Di malam bintang balik pulang Kuraba bayangan cinta mati hati Dan namamu  Kutulis di nisan nisan sepi

Anima

Puisi Wiko Antoni  aku bukan pembawa cahaya  atau penerang jiwa jiwa aku adalah luka  ruam masa di lorong-lorong Sukma asmara  loka luka duka Anima  irisan hati dalam sepi kaukah  cinta di alam Maya disanding bijak laksana tak terjawab nyata Aku taklah pernah nak pergi   Hanya jasad hamba yang resah menjauh Jasad nyatanya bukan jiwa   Kudekap semua yang Kusayang  Yang tinggal tetap memeluk dalam sunyi   Di ruang yang tak bisa dijangkau oleh dunia Aku tak pernah membenci   Hamba hanya diam dalam luka yang dijaga   Dari yang membeku di pelataran malam  Beta yang mencinta dalam doa Meski tubuh tak kan lagi bisa menyentuh Jiwa hamba tak pernah menuntut   Ianya Hanya menyerahkan semua pada Yang Maha   Yang tahu isi dada   Yang tahu disini tetap menjaga Aku tak pernah memilih untuk melukai   Hanya mengikuti jalan yang ditunjukkan cahaya   Yang datang dari...

SUNYI SANG CINTA

Puisi Wiko Antoni  berhembus lah dikau wahai angin menampar wajah malam nan sendu meratap hamba di peluk dingin  bersenandung jiwa di batu beku bergetarlah dikau dada manakala tersentuh balik luka lama nak Cuba hapus kenang kenangan namun tersentuh jejak perih pulang akulah sepi itu  aku pula perih syahdu nan memuja dikau disunyian meraba hampa di kekosongan  dikau cinta abadi tak luput lupa  dikau kasih tak pernah mengirim dendam dalam asmara  nak tiada nak selam tinggi suci nan tiada tuk dibanding bila cemburumu meruak resah bergetar rasa menikam rasa bila senyum mu menatap mesra bertapa aku terbakar rindu menyala

LUKA SANG KEKASIH

 #penyairuniversitasmerangin #penyairjangkattimur  Puisi Wiko Antoni  Aku taklah pernah nak pergi   Hanya jasad hamba yang resah menjauh Jasad nyatanya bukan jiwa   Kudekap semua yang Kusayang  Yang tinggal tetap memeluk dalam sunyi   Di ruang yang tak bisa dijangkau oleh dunia Aku tak pernah membenci   Hamba hanya diam dalam luka yang dijaga   Dari yang membeku di pelataran malam  Beta yang mencinta dalam doa Meski tubuh tak kan lagi bisa menyentuh Jiwa hamba tak pernah menuntut   Ianya Hanya menyerahkan semua pada Yang Maha   Yang tahu isi dada   Yang tahu disini tetap menjaga Aku tak pernah memilih untuk melukai   Hanya mengikuti jalan yang ditunjukkan cahaya   Yang datang dari pelajaran ghaib   Yang tak bisa dijelaskan, hanya dijalani Aku minta ampun   Untuk semua yang pernah singgah   Untuk semua yang pernah aku sakiti ...

Langkah sang Kembara

Puisi Wiko Antoni  masa berganti tahun bertukar  cintaku tiada pudar  masa berganti tahun bertukar  cintaku tiada pudar langkah menapak kerikil tajam luka tapak kaki nyeri melara berdarah  menuju cahaya di kabut cinta  menusuk duri diperjalanan  tak pasrah  masih ada jejak ruam dari dera duka nan menikam masih lara gurih ngilu  dari amar dan. kalimat cinta memburu rindu dingin membeku menadah cinta balik ke hampa  dikaukah itu  nan di catat kasih abadi  bilik bilik hati dipenuhi kalimat syahdu halaman jiwa hanyalah kosong pulang semula  kasih  aku masih menadah doa tuk redha dan bahgiamu

Soal Tuhan bukan soal tanah

Puisi Wiko Antoni  Tuhan tidak beristirehat di sempadan ianya  adalah nafas dalam hati, cahaya yang tiada mengenal dinding, bahasa yang tiada dapat dikurung pagar. Iman bukan wilayah untuk ditakluk, bukan bumi untuk dimiliki. Iman adalah tempat suci — dalam jiwa kemanusiaan, di mana belas kasih menjadi satu-satunya ajaran. Apabila iman dituntut sebagai tanah, maka peperangan bermula, hati menjadi senyap. Tetapi apabila iman ditemui dalam memberi, tiada perang — hanya meja penuh roti, dan tangan bersatu dalam damai. Rantaupanjang 10-10-25