RANTAU SANG LARAS NOVELLA WIKO ANTONI

 Katanya

Novella Karya Wiko Antoni 

RANTAU SANG LARAS


Bagian 1

Orang-orang kampung menyebutnya “Si Gila Hening”.

Setiap sore, setelah azan asar, ia berjalan pelan ke tepi sungai tua di belakang bukit, tempat batu-batu berlumut dan airnya sejuk seperti doa yang tak pernah selesai.

Ia duduk di sana, berbicara pada pepohonan, dan sesekali tersenyum pada aliran air yang berkilau di bawah cahaya matahari sore.

“Dia bicara sama jin,” kata anak-anak kampung.

“Dia gagal di kota, makanya sembunyi di hutan,” sambung orang dewasa.

“Lihat tuh, katanya dulu pintar, sekarang gila,” tawa mereka memotong langit sore.

Tapi lelaki itu, Rantau namanya, tidak membalas.

Ia hanya menunduk, seperti orang yang sedang mendengarkan bisikan yang lebih dalam daripada suara manusia.

Di dadanya, ada luka yang tidak ingin dibicarakan. Di matanya, ada langit yang tak bisa dimengerti.

Bertahun-tahun lalu, ia memang meninggalkan kampung itu dengan sumpah: akan kembali membawa nama, harta, dan kehormatan.

Dan ia benar-benar melakukannya.

Di perantauan, Rantau jadi penulis yang dielu-elukan. Puisinya dibacakan di televisi, pidatonya dimuat di majalah rohani.

Orang menyebutnya “penyair sufi masa kini”.

Ia tersenyum setiap kali mendengar tepuk tangan, tapi di dalam dirinya, ada ruang kosong yang makin besar setiap kali nama Tuhan disebut tanpa rasa.

Sampai suatu hari, ia berhenti.

Ia meninggalkan panggung, mematikan semua sambungan dunia, dan kembali ke kampung — bukan untuk membuktikan, tapi untuk menenangkan.

Di hutan, ia menemukan suara yang selama ini ia cari.

Bukan dari manusia, melainkan dari angin yang berzikir, daun yang berdoa, dan air yang mengaji dalam denting alirannya.

Ia berbicara pada mereka, dan mereka menjawab dengan bahasa yang tidak ditulis tapi dirasakan.

Namun ketenangan itu pecah, ketika datang seorang wanita.

Namanya Laras — cantik, kaya, dan terkenal di kota sebagai dermawan.

Ia datang dengan mobil mewah dan parfum yang mahal.

Ia berkata, “Aku mencari kedamaian, dan semua orang bilang kau punya Tuhan di hatimu. Ajari aku.”

Rantau hanya menatapnya lama.

“Yang kau cari bukan aku, tapi dirimu sendiri.”

Tapi Laras tak berhenti datang.

Ia duduk di tanah, makan ubi bakar bersamanya, bahkan membantu menyapu dedaunan.

Dan suatu malam, di bawah bulan yang penuh, ia menangis dan berkata,

 “Aku sudah tidak suci. Aku pernah dijual oleh cinta palsu. Aku berdosa. Tapi bila kau tolak aku, aku akan bunuh diri.”

Hening.

Sungai di belakang mereka mendadak terasa membeku.

Rantau bangkit perlahan, mendekat, menatap mata Laras yang basah.

“Suci itu bukan tubuhmu, tapi hatimu.

Noda itu bukan di jasadmu, tapi di niatmu.

Jika kau benar-benar ingin hidup, maka hidupkan hatimu, bukan karena aku.”

Ia menyentuh dada Laras dengan ujung jarinya.

“Tuhan masih ada di sini. Tak pernah pergi, hanya kau yang menutup pintunya.”

Laras menangis seperti anak kecil. Ia memeluknya, tapi Rantau tak membalas.

Ia hanya menatap ke langit, berbisik,

“Kasih-Mu, Tuhan, jauh lebih dalam dari luka yang mereka kira.”

Beberapa bulan kemudian, Laras benar-benar berubah. Ia meninggalkan hartanya, membuka panti kecil di kaki bukit, membantu anak-anak kampung yang dulu menertawakan Rantau.

Dan orang-orang pun mulai bicara lain:

“Lihat, ternyata dia wali.”

“Dia menyembuhkan wanita itu!”

“Dia suci!”

Tapi Rantau, seperti biasa, hanya tersenyum.

Ia kembali ke tepi sungai, menulis di batu dengan ranting kering:

“Aku bukan suci, aku cuma sadar.

Bahwa cinta Tuhan terlalu besar untuk dibuktikan,

cukup untuk dirasakan.”

Dan di antara desir air yang mengalir, terdengar seolah alam ikut berzikir,

menyebut satu nama yang sama,

nama yang hidup di dada setiap makhluk —

Cinta.

Rantau akhirnya menikahi Laras.

Bukan karena paras, bukan pula karena hartanya yang tak habis tujuh turunan.

Tapi karena dalam diri Laras, ia melihat dirinya sendiri — luka yang sama, kehilangan yang sama, dan hasrat untuk pulang yang sama.

 “Aku ingin mencintaimu bukan sebagai wanita,

tapi sebagai cermin yang menuntunku pada Tuhan,”

katanya pelan pada malam pernikahan mereka di bawah pohon beringin,

dengan cahaya pelita yang bergetar karena angin.

Tak ada pesta.

Tak ada undangan.

Yang jadi saksi cuma batu, sungai, dan langit malam.

Dan doa yang dilafalkan Rantau dengan suara rendah,

lebih seperti dzikir daripada ijab.

Tapi dunia manusia jarang bisa menerima yang tak bisa mereka mengerti.

Keesokan harinya, suara cacian meledak di kampung,

lebih panas dari matahari yang menyengat padi.

 “Gila! Lelaki miskin itu menipu Laras!”

“Anakku dibawa ke hutan!”

“Dia cuma penyair gagal yang pura-pura alim!”

Ibunya Laras, seorang sosialita yang selalu bergaun wangi dan bermata tajam, datang menjemput dengan amarah yang gemetar.

Ia menatap Rantau dengan pandangan yang bisa membunuh.

 “Berapa yang kau mau?! Rumah? Uang? Mobil? Katakan, asal kau lepas anakku!”

Rantau hanya diam.

Ia menatap tanah, lalu menatap langit.

 “Ibu, saya tidak mengambil anak Ibu. Saya hanya mengembalikannya kepada dirinya sendiri.”

Kalimat itu membuat perempuan tua itu menangis — bukan karena tersentuh, tapi karena tak paham.

Dan bagi mereka yang tak paham, diam itu dianggap penghinaan.

Ia menampar Laras di depan banyak orang.

Tapi Laras memeluk ibunya dan berbisik,

“Ibu, jangan benci orang yang sedang mencintai Tuhan lewat aku.”

Mereka tetap tinggal di hutan.

Rumah mereka hanyalah gubuk kecil beratap rumbia, berdinding bambu,

namun di dalamnya ada damai yang tak pernah dijual di kota mana pun.

Rantau menulis, Laras menanam,

dan malam-malam mereka diisi dengan tawa kecil dan doa.

Namun, kehidupan mereka bukan tanpa luka.

Kadang Laras menangis sendiri — bukan karena menyesal,

tapi karena masih mendengar suara-suara penghinaan dari luar.

“Dia itu orang gila, Laras,”

“Dia buat kamu miskin!”

“Kasihan anak orang kaya diseret ke tanah!”

Rantau selalu memeluknya dari belakang, membisikkan,

“Biar mereka berkata. Kita tak harus membuktikan,

cukup menjadi.”

Tahun-tahun berjalan.

Rambut Rantau mulai memutih.

Laras makin tenang — wajahnya bukan lagi wajah sosialita,

melainkan wajah seorang perempuan yang selesai dengan dunia.

Suatu pagi, langkah kaki berat terdengar di depan gubuk.

Ternyata ayah Laras datang, tanpa pengawal, tanpa mobil.

Pakaiannya sederhana, wajahnya basah oleh peluh dan rasa malu.

“Aku dulu menolakmu, Nak,” katanya pelan, menatap Rantau.

“Tapi sekarang aku ingin belajar darimu.

Aku sudah lama hidup dalam ramai, tapi tak pernah mengenal sunyi.”

Rantau tersenyum dan mempersilakan ia duduk di atas batu besar dekat sungai.

Dan untuk pertama kalinya, sang ayah melihat air mata jatuh dari matanya sendiri — bukan karena duka, tapi karena ia baru tahu:

ketenangan bukan hasil dari memiliki, melainkan dari melepaskan.

Sejak hari itu, ayah Laras sering datang ke gubuk.

Kadang ia ikut menanam, kadang duduk lama di tepi sungai,

mendengar bisikan air yang berzikir.

Dan suatu sore, ia berkata pada Rantau:

 “Dulu aku malu punya menantu miskin.

Tapi kini aku takut tak bisa setenang kau.

Ajari aku bicara pada alam.”

Rantau tersenyum, menatap jauh ke langit senja.

“Tak usah bicara, Ayah. Dengarkan saja.

Sebab yang berbicara bukan alam, tapi Tuhan lewat sunyi.”

Dan di antara desir angin, burung, dan gemericik sungai,

tiga manusia itu duduk diam —

tanpa lagi memikirkan dunia, tanpa lagi menuntut apapun,

kecuali satu hal:

cinta yang tak lagi membutuhkan alasan.


Bagian 2

Dzikra lahir bukan di rumah sakit, tapi di tepi sungai tempat ayah dan ibunya dulu bersumpah akan hidup dari cinta, bukan dari dunia.

Tangisnya kecil, tapi seisi hutan diam mendengarkan.

Rantau berkata waktu itu,

“Anak ini bukan anak kita, Laras. Ia anak dari kesunyian yang menjelma.”

Tahun berlalu, Dzikra tumbuh jadi pemuda aneh — seperti ayahnya,

tenang, tapi matanya dalam.

Ia jarang bicara, tapi kalau sudah berbicara, orang bisa menangis tanpa tahu sebabnya.

Di kampus, dosennya memanggilnya “mahasiswa yang bersedekah dari sampah.”

Karena Dzikra punya kebiasaan aneh:

setiap pagi, ia memunguti botol plastik dan kertas dari tempat sampah,

lalu menjualnya ke tukang rongsok,

hasilnya ia belikan nasi bungkus untuk orang-orang di jalan.

Ketika teman-temannya tertawa,

ia hanya berkata pelan,

 “Sampah itu masih bermanfaat kalau disedekahkan.

Tapi manusia yang lupa berbagi, justru lebih busuk dari sampah.”

Suatu hari, setelah sekian tahun tak pernah tahu siapa neneknya,

Dzikra mengikuti naluri hatinya.

Langkahnya membawanya ke halaman besar,

sebuah rumah megah dengan taman penuh bunga palsu dan pagar besi tinggi.

Ia berdiri lama di depan gerbang,

memandang seorang perempuan tua bersyal sutra yang sedang menyiram bunga.

Ia tahu — entah dari mana —

itu neneknya.

Ia mendekat perlahan.

Perempuan itu menatap tajam.

“Siapa kamu, pemulung? Jangan kotori halaman ini!”

Dzikra tersenyum lembut.

 “Saya cuma mau kumpulkan botol plastik, Nek.

Buat sedekah.”

 “Sedekah? Dari sampah? Astaga!

Pergi kamu! Anak seperti kamu bikin najis halaman rumah orang terhormat!”

Dzikra menunduk.

Ia tidak marah.

Ia memungut satu botol air mineral yang tergeletak di dekat kaki neneknya,

mengelapnya perlahan dengan ujung bajunya yang lusuh.

 “Nek, kadang yang kotor itu bukan botolnya, tapi mata yang melihatnya.”

Perempuan itu terdiam sesaat,

ada sesuatu yang bergetar dalam jiwanya,

tapi ego yang sudah lama berkarat menutupinya lagi.

Ia berbalik pergi.

Malamnya, saat Dzikra hendak pulang ke kampus,

seorang pelayan rumah tua itu berlari mengejarnya,

membawa sebungkus nasi dan sebotol air.

“Nak, Nyonya tadi menyuruh kasih ini diam-diam.

Tapi jangan bilang-bilang, ya…”

Dzikra tersenyum, menerimanya.

 “Terima kasih, tapi saya sudah makan, Pak.

Tolong sampaikan ke Nyonya, saya tidak lapar.

Saya cuma ingin tahu,

apakah bunga yang dia siram tadi, tumbuh dari air mata atau dari kesombongan?”

Pelayan itu tertegun.

Ia tak tahu harus menjawab apa.

Beberapa hari kemudian, perempuan tua itu sakit keras.

Banyak dokter datang, tapi tak ada yang bisa menenangkan jiwanya.

Ia terus berhalusinasi melihat seorang anak kecil membawa botol-botol sampah

yang menyala seperti lentera di malam hari.

Sampai suatu malam, pintu rumah terbuka.

Dzikra datang, menatapnya lembut.

 “Nenek, saya cuma mau bilang —

yang kotor itu sudah saya bersihkan.

Tapi hati yang menolak kasih,

hanya bisa dicuci oleh air mata sendiri.”

Neneknya menangis.

Tangannya gemetar memegang tangan cucunya itu.

“Kau anak siapa…?”

“Saya anak dari perempuan yang dulu Nenek usir dari rumah ini,” jawab Dzikra pelan.

“Dan cucu dari perempuan yang sekarang sedang minta maaf pada Tuhan.”

Perempuan tua itu tak sanggup bicara.

Ia hanya menunduk dan berbisik lirih,

“Suci itu hati, noda itu jasad.

Tuhan, aku malu.”

Dzikra tersenyum, mencium tangannya,

lalu pergi ke luar, ke halaman,

menatap langit yang bersih dari bintang — tapi penuh cahaya.

“Ayah, Ibu… aku sudah selesai memungut sampah dunia.

Kini biarlah aku pulang,

ke sunyi tempat cinta pertama kali dicipta.”

Dan malam itu, angin dari arah hutan datang pelan,

membawa aroma bambu basah dan doa.

Di kejauhan, terdengar suara air sungai mengalun —

seperti dzikir yang lembut,

menyebut satu nama tanpa akhir:

> “Cinta.”


Bagian 3

Di tengah kota yang penuh asap,

di antara deru mesin dan aroma kopi modern,

ada satu tempat yang tak punya harga,

tapi bernilai tak terhingga.

Namanya Kafe Akhirat.

Papan namanya sederhana,

huruf-hurufnya digores dengan kapur putih di atas kayu bekas.

Tak ada daftar harga di dinding.

Hanya satu tulisan besar:

“Bayaran setiap makanan: 100 dzikir dan 50 shalawat.”

Orang datang silih berganti —

tukang ojek, guru, pengusaha, bahkan gelandangan.

Mereka semua makan di sana tanpa takut tak mampu membayar,

karena yang diminta bukan uang,

tapi kesadaran.

Di balik meja kayu yang retak,

seorang gadis muda tersenyum ramah menyambut semua orang.

Namanya Khaira.

Dia anak kedua dari Laras dan Rantau.

Tak sekolah tinggi seperti kakaknya, Dzikra,

tapi setiap langkahnya seperti membawa cahaya.

Orang-orang bilang,

 “Dia bodoh, tak mau kuliah.”

Tapi langit tahu,

dia justru sedang menulis tesis di hati Tuhan.

Suatu siang, datanglah seorang perempuan tua dengan rombongan besar dan mobil mewah.

Ia duduk di kursi Kafe Akhirat, menatap sekeliling dengan heran.

 “Anakku, tempatmu ini... aneh sekali.

Tapi ada yang hangat di dalamnya.

Aku ingin membantu.

Aku punya yayasan,

biar aku salurkan amal dari perusahaan untuk tempatmu.”

Khaira menatap lembut.

Ada senyum getir yang menyembunyikan ribuan doa.

 “Terima kasih, Nyonya.

Tapi saya tak menjual pahala,

dan saya tak menampung dosa lewat rekening.”

Perempuan tua itu terkejut.

“Kau menolak bantuanku?”

“Bukan menolak, Nyonya.

Saya hanya tak mau berdagang dengan Tuhan.

Usaha jahit kecil saya cukup membiayai semuanya.

Karena saya percaya,

rezeki itu bukan datang dari uang,

tapi dari niat yang bersih.”

Perempuan tua itu —

tak lain adalah nenek Khaira,

yang dulu menolak ibu Khaira, Laras,

yang dulu menghina Dzikra si pemulung.

Kini ia duduk di depan cucunya yang kedua,

tanpa tahu darah yang sama mengalir di tubuh gadis itu.

Namun, entah kenapa,

setiap kali Khaira bicara,

suara itu terasa akrab di jantungnya.

Ada sesuatu yang menggigil di dalam dada tuanya.

Ia pulang dengan hati gundah.

Malamnya, ia memerintahkan sekretarisnya menyelidiki siapa gadis itu.

Beberapa hari kemudian, laporan datang.

Kertas itu terbuka di atas meja kaca.

Ia membaca perlahan…

Laras.

Rantau.

Dzikra.

Khaira.

Nama-nama yang ia lupakan,

nama-nama yang dulu ia anggap aib keluarga.

Dan saat sampai di kalimat terakhir laporan itu:

 “Khaira adalah cucu kandung Anda.”

Ia menjerit.

Tubuhnya gemetar hebat.

Tangis pecah dari tenggorokan yang sudah lama kering oleh gengsi.

Ia berlari ke luar rumah,

ke arah Kafe Akhirat,

dengan langkah tertatih,

menembus hujan sore.

Khaira sedang menutup tirai saat pintu kafenya diketuk keras.

Begitu ia buka,

seorang wanita tua basah kuyup berdiri di sana.

Mata mereka bertemu —

dan dunia seakan berhenti.

 “Kau... Khaira?”

“Iya, Nyonya.”

“Aku... aku nenekmu.”

Khaira terdiam.

Lalu pelan, ia mendekat, meraih tangan yang gemetar itu,

membawanya ke dalam,

dan menyelimuti tubuh tuanya dengan kain hangat.

“Nenek, maafkan aku kalau warungku terlalu kecil untuk hatimu yang luas.”

Neneknya menangis tersedu.

 “Aku yang harusnya minta maaf, Nak...

aku menolak ibumu,

aku menghina ayahmu,

aku malu pada diriku sendiri...”

Khaira menatapnya lembut.

“Sudah, Nek...

kita semua hanya sedang belajar mencintai Tuhan lewat jalan yang berbeda.

Ada yang lewat doa,

ada yang lewat rasa sakit.”

Mereka berpelukan lama,

dan malam itu,

untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

perempuan tua itu menangis bukan karena kehilangan,

tapi karena akhirnya menemukan cinta sejati —

dalam cucu yang tak pernah menuntut apa-apa.

Esoknya, Kafe Akhirat penuh sesak.

Orang-orang datang membawa uang, makanan, pakaian.

Khaira menolak semuanya dengan senyum.

Ia hanya menunjuk papan kayu itu,

yang kini bertambah satu baris:

Bayaran setiap makanan:

100 dzikir, 50 shalawat,

dan satu air mata keikhlasan.

Dan di pojok dinding kafe itu,

ada foto kecil Rantau, Laras, Dzikra, dan Khaira —

empat wajah dari satu cinta,

yang telah menanam surga

di tengah pasar dunia.

Sore itu, langit seakan menahan napas.

Matahari menggantung redup di atas barisan pohon pinus,

menyiram gubuk tua di tepi hutan dengan cahaya keemasan.

Di depan gubuk itu, Rantau duduk bersila di atas tanah lembap,

menjahit tikar pandan bersama Laras, istrinya yang setia dalam diam,

sementara Khaira menyiapkan teh hangat,

dan Dzikra, yang baru saja pulang dari wisuda,

memakai toga lusuh dengan senyum yang seperti embun.

Angin sore membawa suara langkah dari kejauhan.

Langkah yang ragu, tapi penuh penyesalan.

Dari balik kabut ringan, muncullah seorang perempuan tua —

ibu Laras, yang dulu mencaci,

yang dulu menolak,

yang dulu mengusir suaminya karena memilih anaknya sendiri.

Rambutnya telah memutih,

mata yang dulu tajam kini basah oleh usia dan sesal.

Ia berhenti di depan gubuk kecil itu,

menatap mereka bertiga seolah baru sadar

betapa kecil dunia jika dibandingkan dengan penyesalan.

 “Laras…” suaranya gemetar.

“Boleh kah aku duduk?”

Rantau bangkit perlahan.

Senyum yang lama hilang kembali menghiasi wajahnya.

 “Duduklah, Ibu. Tak ada tempat yang terlalu sempit bagi yang datang membawa damai.”

Tangis menetes di pipi tua itu.

Ia menatap Rantau dengan mata yang dalam,

mata yang dulu menatap dengan marah,

kini menatap dengan cinta yang kalah.

“Rantau… aku dulu tak mengenalmu.

Aku hanya tahu kau miskin.

Aku pikir cinta anakku padamu akan membuatnya sengsara.

Tapi ternyata…

kaulah rumah yang sebenarnya.”

Rantau hanya tersenyum,

menatap pohon-pohon yang berdesir lembut di belakang gubuk.

“Tak apa, Bu. Hutan ini juga pernah menolak matahari,

tapi akhirnya belajar bahwa tanpa cahaya, ia takkan hijau.”

Laras menggenggam tangan ibunya.

Untuk pertama kali dalam hidup mereka,

tak ada lagi perdebatan,

hanya isak yang larut dalam ketenangan senja.

Tiba-tiba, dari jalan kecil, datang seorang lelaki tua yang berjalan tertatih,

tongkat kayu di tangannya menandai langkah pelan tapi pasti.

Dialah ayah Laras —

mantan suami ibu Laras,

lelaki yang dulu diusir karena berpihak pada cinta,

yang kini datang dengan jubah sederhana dan senyum tenang.

Ia menatap semua yang ada di hadapannya:

anaknya, menantunya, cucunya, dan wanita yang dulu mencampakkannya.

Lalu ia berkata pelan:

 “Akhirnya... rumah ini jadi juga.

Bukan dari batu dan genting,

tapi dari maaf dan doa.”

Semua terdiam.

Hanya suara sungai di belakang gubuk yang terus berbisik.

Sambil duduk di tikar pandan,

ayah Laras membuka tas kecil dari kain goni.

Dari dalamnya, ia keluarkan map cokelat dan menyerahkannya pada Dzikra.

 “Nak, ini surat perusahaan yang dulu ibumu kelola.

Harta yang dulu jadi sumber perpecahan,

kini akan jadi jalan pengabdian.

Aku serahkan semua pada Tuhan, lewat tanganmu.”

Dzikra menatap dengan mata berkaca-kaca.

 “Kakek… aku tak ingin harta. Aku hanya ingin belajar damai seperti kalian.”

Senyum lembut mengembang di wajah lelaki tua itu.

“Kau tak akan bisa memberi damai pada dunia,

kalau kau tak punya sesuatu untuk diuji.

Gunakan ini,

bukan untuk membangun gedung tinggi,

tapi untuk menegakkan hati.”

Laras menatap Dzikra, lalu menatap Khaira yang berdiri di belakang.

Dua anak yang lahir dari cinta sederhana,

kini menjadi cermin dua jalan menuju Tuhan:

yang satu lewat ilmu,

yang satu lewat pengabdian.

Rantau menatap langit yang mulai memerah.

 “Lihat, senja ini indah sekali…

karena ia tahu batasnya.”

Semua menatap arah yang sama.

Angin sore membawa harum tanah basah,

dan seolah seluruh alam menjadi saksi

bahwa dendam bisa berubah jadi doa,

bahwa kemiskinan bisa melahirkan surga,

dan bahwa cinta yang tulus tak pernah sia-sia.

Malam turun perlahan.

Di depan gubuk itu, lampu minyak menyala redup.

Suara jangkrik berpadu dengan desiran sungai.

Ibu Laras tertidur di pangkuan cucunya,

ayah Laras berzikir di bawah pohon bambu,

dan Rantau menatap bara api di tungku sambil berbisik lirih:

 “Tuhan... kalau ini malam terakhirku,

biarlah hatiku berpulang di rumah yang penuh maaf.”

Laras menatapnya dengan mata bening.

“Kau tak akan pergi, Rantau.

Kau akan hidup dalam setiap dzikir di Kafe Akhirat anak-anakmu.”

Dan senja itu menjadi saksi terakhir

bahwa cinta yang paling suci

bukan yang tak bercacat,

melainkan yang tetap memilih untuk bertahan —

meski seluruh dunia telah berpaling.


Epilog

SURAT DARI RANTAU UNTUK DUNIA


Wahai dunia yang dulu menertawakanku,

aku tak pernah marah padamu.

Aku hanya tersenyum, karena aku tahu —

orang yang belum mengenal sunyi,

akan selalu sibuk mengukur kebahagiaan dengan sorak-sorai.


Dulu aku dianggap gila,

karena berbicara dengan sungai,

menyapa pohon, dan menulis sajak untuk angin.

Tapi hari ini, lihatlah —

sungai tetap mengalir,

pohon tetap tumbuh,

dan angin tetap berdoa.

Sementara mereka yang dulu mencaci,

sibuk mencari arti di balik reruntuhan diri.


Aku tidak suci, aku hanya berhenti memuja topeng.

Aku tak ingin jadi malaikat,

cukup jadi manusia yang tahu kapan harus menunduk.

Sebab di hadapan cinta,

bahkan doa pun kadang gugup untuk berbicara.


Laras, istriku,

terima kasih karena telah menjadi cermin yang tidak pernah retak,

meski wajahku penuh debu dan luka.

Kau mencintaiku bukan karena aku pantas,

tapi karena kau mengerti bahwa dalam tiap luka

ada taman kecil tempat Tuhan menanam pengampunan.


Dzikra, Khaira, anak-anakku,

jangan biarkan dunia memaksamu memilih antara doa dan pekerjaan.

Bekerjalah seakan kau tidak butuh surga,

dan berdoalah seakan kau tidak punya dunia.

Sebab dua-duanya akan bertemu di jalan yang sama:

jalan pulang.


Dan untuk kalian,

yang membaca surat ini di tengah dunia yang gaduh,

ingatlah —

kekayaan tak akan memberi teduh,

jabatan tak akan memberi tenang,

cinta yang palsu hanya akan membuatmu kehilangan dirimu sendiri.


Temuilah sunyi.

Duduklah bersama pohon yang tak menuntut,

dan sungai yang tak berdebat.

Karena di sanalah Tuhan berbicara tanpa suara.


Aku tak meninggalkan harta,

aku hanya meninggalkan jejak diam

di mana cinta pernah menyalakan api kecil di hati yang dingin.

Jika kau menemukannya,

jagalah —

itu bukan milikku,

itu milikmu yang telah lupa.


Dan jika suatu hari kalian datang ke gubuk ini,

jangan cari aku di tanah atau batu.

Carilah aku di udara yang kau hirup,

di bayang sore yang jatuh lembut di matamu,

atau di setiap kata yang membuatmu menangis

tanpa tahu sebabnya.


Sebab di sanalah —

aku masih hidup.


Tertanda,

Rantau.


(Di bawah surat itu, tertulis dengan tulisan kecil:)

 "Suci itu hati, noda itu jasad.

Maka biarlah dunia menilai tubuhku,

tapi biarlah Tuhan mengenali jiwaku."


Rantau panjang 17-10-25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJAN MALAM RINDU

KERIUHAN DI SENYAP HATI