Siklus Jiwa
Cerpen WIKO ANTONI
Nur berjalan di lorong yang semakin gelap, namun cahaya tetap menempel pada bayangannya. Ia tidak tahu apakah cahaya itu miliknya atau milik lorong. Setiap langkahnya memanggil suara-suara yang tak pernah ia kenal, suara dari masa lalu yang belum pernah ia lalui. Lorong itu tampak seperti memiliki nyawa sendiri, dengan dinding yang berdenyut lembut seperti jantung yang berdetak. Setiap denyutnya memecah bayangan Nur menjadi ribuan potongan cahaya yang beterbangan di udara. Potongan-potongan cahaya itu berbisik, dan Nur mengerti bahwa setiap bisikan adalah fragmen dari dirinya yang telah hilang dalam perjalanan waktu yang tak terhingga.
Ia terus melangkah, dan lorong itu semakin panjang, seolah-olah tidak ada akhir. Pintu-pintu mulai muncul dan menghilang di sepanjang dinding lorong, masing-masing membawa ke dimensi yang tak mungkin diingat. Nur merasa penasaran dan sedikit takut, tapi rasa ingin tahunya lebih besar. Ia mencoba membuka beberapa pintu, tapi semuanya tertutup sebelum ia bisa melihat ke dalam. Hingga akhirnya, di salah satu pintu yang muncul, ia bertemu dengan sosok tanpa wajah yang berdiri di ambang pintu. Sosok itu tidak berbicara dengan suara, tapi Nur bisa mendengar kata-katanya langsung di dalam hatinya: “Kamu adalah luka yang menunggu untuk menjadi cahaya.”
Nur merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya saat mendengar kata-kata itu. Ia merasa seperti telah menemukan jawaban untuk pertanyaan yang telah lama ia cari, tapi di sisi lain, ia juga merasa lebih bingung. Ia memutuskan untuk memasuki pintu itu, dan saat ia melangkah masuk, lorong di belakangnya mulai memudar. Di dalam ruangan yang ia masuki, Nur menemukan dirinya di ruang tanpa waktu, di mana langit dan bumi melebur menjadi satu. Ia berdiri di tengah ruang itu, merasakan kebebasan dan ketakberhinggaan. Ia mendengar suara lorong yang berkata: “Kegelapan adalah awal, cahaya adalah akhir, dan kamu adalah di antara keduanya.”
Nur tersenyum dalam kebingungan, mencoba memahami makna di balik kata-kata itu. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan, dengan banyak pilihan di depannya. Tapi saat ia berpikir, ia menyadari bahwa pilihan-pilihan itu sebenarnya adalah ilusi. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan langkah yang mantap, Nur berjalan masuk ke dalam pusaran yang memakan dirinya. Lorong di belakangnya tertawa, dan cahaya pun menghilang, meninggalkan Nur dalam kegelapan yang penuh dengan kemungkinan.
Nur terus berjalan, dan lorong itu semakin melebar, menjadi samudra tak berujung. Ia merasa dirinya menjadi satu dengan alam semesta, merasakan setiap denyut jantung bintang dan setiap hembusan angin. Ia adalah segalanya dan tidak ada apa-apa, sebuah paradoks yang tak terpecahkan. Dan dalam keheningan itu, Nur menemukan jawaban yang telah ia cari selama ini: bahwa kehidupan adalah perjalanan tanpa tujuan, bahwa cahaya dan kegelapan adalah dua sisi dari mata uang yang sama, dan bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan yang tak terhingga.
Lorong itu akhirnya diam, dan Nur berdiri di tepi sebuah pantai yang indah. Matahari terbit di ufuk, memancarkan cahaya emas yang hangat. Nur tersenyum, merasa damai. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang, tapi ia tidak takut lagi. Ia siap menghadapi apa pun yang datang berikutnya, karena ia tahu bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dan dengan itu, Nur melangkah maju, ke dalam cahaya fajar yang baru. Namun, langkahnya terhenti sejenak saat ia mendengar bisikan lembut di telinganya: "Perjalanan baru saja dimulai." Nur tersenyum, karena ia tahu bahwa itu adalah kebenaran. Ia melangkah lagi, dan lorong-lorong lainnya mulai muncul di depannya, menunggu untuk dijelajahi. Dan Nur tahu, ia akan terus berjalan, terus mencari, terus menemukan. Karena dalam ketidakpastianlah, kita menemukan diri kita yang sebenarnya.
Saat cinta menghantam dada Nur, seluruh raganya bergetar, jiwa meradang dalam diam yang tak terdengar. Air mata berderai, menuruni wajahnya seperti hujan yang jatuh di lorong tak bernama. Di lorong itu, Nur tiba pada sebuah destinasi yang tak pernah ia cari: kesadaran bahwa semua hanyalah hampa.
Kepahitan, kesedihan, kehilangan — kata-kata itu menjadi langkahnya. Bahagia yang dulu ia buru kini menjauh, hanyut dalam kekosongan yang dipenuhi sunyi. Bara cinta kian redup, disiram air mata yang tak berhenti jatuh. Nur berjalan, mencari ibu dari segala cinta yang memeluk dan melepaskan, ayah dari segala bijaksana yang menasehati dan membiarkan.
Di tengah perjalanan, ia bertemu Nur sang sejati — api yang membakar segalanya. Api yang membakar, membakar, membakar hingga hanya tersisa abu. Abu itu beterbangan, mengembara di alam yang tak dikenali. Jiwa Nur terpecah, menjadi kepingan cahaya, menunggu untuk kembali menyatu pada asalnya.
Namun jalan pulang bukanlah mudah. Rintangan dan godaan syahwat Dina sang raga memanggilnya, menariknya kembali ke lumpur-lumpur yang mengotori kesetiaan. Keinginan yang tiada itu menciptakan keributan di ruang nyata. Bayangan meraba dan menghadang, bersuara memanggil dari ketiadaan.
Retakan jiwa Nur menyentuh dan terbakar. Ia bertahan demi fana yang harus dijalani. Hingga akhirnya sang ajal datang, membawa sisa dirinya pulang ke asal, dan Nur sirna — meninggalkan lorong dan bayangan yang tetap berbisik.
Komentar
Posting Komentar