Postingan

LELAKI DI PERAHU RETAK puisi Wiko Antoni

siapa yang suka berkelindan dengan luka. Mengemis damai pada kesombongan nan menjajah rasa Dan simpang demi simpang menyesatkan arah Aku tahu Tuhan sedang bersenda gurau  Ini pilihan sang kembara sunyi Nan tak lazim jadi tetapan kebanyakan lelaki  Mengembang layar perahu kecil  Di ombak besar samudra raya. Sendirian  Ya. Berkorbanlah sendirian Agar tak lebih banyak mata menikam kasih  Dan lebih jauh hati tersisih  Mungkin perahu hancur menghantam karang Atau tiang layar patah diterjang gelombang  Cabik layar oleh sang badai  Karam aku di samudra rasa Tapi aku memilih inilah pelayaran ku sendiri  Tak libatkan kuntum manapun Atau aroma wangi sesiapa Jauh ke pulau tanpa penghuni Semedi kata kan menemukan makna Bahwa kesendirian bukanlah sepi Tapi berpelukan dengan cinta sang sejati  7-11-25

Kau bukan pilihan puisi Wiko Antoni

Ada dua arah menarik dua tali menjerat Bagaimana aku menjelaskan Bahwa cinta bukan soal memilih dan dipilih Tapi mengapa harus memilih? Saat kasih menjaga tuntutan dan sayang menuai badai Apakah aku harus berlayar sendirian? Atau kau aku dan dia tahu bahwa luka bukan untuk disulam? Jangan tanya Mengapa aku tak memilih Karena menetapkan siapa yang bahagia dan terluka Bukan perkara sederhana Atau memilih untuk sama terluka adalah juha pilihan? Saat senyum beraroma perisaingan Dan tulus sudah jadi drama Aku tahu, bukan aku yang mempermainkan Tapi aku, sedang dipermainkan Kemudian kita semua melangkah menuju luka lebih dalam Kekasih. Aku telah memilih Kekasih diatas kasih Dan tak membahagiakan bagi kita semuanya Namun ini cukup mendamaikan Dan adil bagi luka, aku-kau-dia Aku hanyalah pulang pada satu pintu Saat menutup pintu kalian Dan Cinta ku adalah Sang Maha Cinta Jangkat - 7-11-25

KASIH SEJATI Puisi Wiko Antoni

kau datang bersama kabut menyentuh dingin wajah sunyi bersama rinai nan tiada seyuman dan gigil lelaki diambang mimpi daku adalah kembara sepi di pendakian terjal impi impian menelusuri kesakitan nan tak usai ditiap bisik menuju akhir wajah wajah kekasih menyapa rindu panggilan tuk pulang semula di rahasia sang maha rahasia bersembunyi kaseh tak ada akhirnya kisah kisah ditulis azzali semua tentang kini lalu dan esok digenggam cemburu tiada kesudahan dan makna kehilangan erti hapuskan segala duka nak seka semua air mata sebenarnya cinta tak pernah mula jua tiada kan ada akhirnya wahai kasih yang sejati

KABUT DAN RINDU puisi Wiko Antoni

  kau datang bersama kabut dingin menyentuh wajah yang lupa tersenyum rinai menempel di gigil lelaki yang menunggu mimpi aku berjalan menyusuri jalan terjal luka setiap bisik mengguratkan rindu yang tak bertepi wajah-wajahmu muncul memanggil pulang tapi kaki ini masih terperangkap di rahasia yang tak tersentuh kata kisah-kisah tertulis di tepi waktu cemburu menempel kehilangan menusuk hapuskan air mata? tak mampu karena cinta tak pernah mula dan tak kan ada akhir wahai kasih sejati yang tak mungkin kugapai

Meraih Bayangan puisi Wiko Antoni

Mata itu bukan tatapan tapi kegelapan Sebab ia melihat karena diperintah menangkap makna Tubuh ini bukan kehidupan Sebab ia berdetak dalam helaan nafas yang ditetapkan Maka semua hidup hanyalah kematian Yang hidup adalah sang hidup itu sahaja Maka saat malam menyelimuti cahaya Siapa nan kan tahu beda warna dunia Atau saat usia merebut penglihatan Siaia nan akan bedakan anyelir dan mawar Semua hanya dikehendaki dari pemilik kehendak Berakhir bila sang kehendak mengakhiri Aurora hanya biasa pandangan dan permainan cahaya Horizon cuma ujung kemampuan pandangan menjelaskan Lembah indak dari puncak bukit Tapi bukit megah dari tatapan lembah Tahulah aku Semuanya hanya soal bagaimana mataku diatur memaknai nya Usai semua perenungan ini Hamba tahu Yang terlihat tak seperti sebenarnya Yabg sejati dalam kebenaran Hanyalah satu itu itu jua

Bukan Milik Sesiapa puisi Wiko Antoni

  setiap mawar menebar wangi seiringan racun bertabur kabut senarai kaseh jauh mendalam disana duri kan tikam sejati dah dikata sejak semula cinta bukan untuk merangkul tapi siapkan buat segala kurban nyatanya memiliki tuk melepaskan kembali pada malam bersemedi dalam sunyi menemukan asmara sehati Bersama sang maha sepi menelan rasa manisnya luka dan air mata sucikan diri menuju kesucian Hakiki melepas dunia demi sang sejati usah bangga kan pupurmu atau tarian lenggok lenggang aku tak akan terpikat silauan karana aku dah berdamai Dengan asa Semua rasa

IKRAR SANG MAHA CINTA PUISI WIKO ANTONI

aku habis kalimat Buat memuji diriku sendiri Maka Pujian lepaslah dijasad mati Biar mereka menjadi Pemuja dirinya sendiri Aku habis kebanggaan dan kesombongan Tuk mengangumi diriku sendiri Maka ku pancarkan cahaya Untuk menghias keindahan ku sendiri Bak menatap cermin Aku berhias tiap waktu Mengagumi diriku sendiri Dan melepaskan kalimat agung Tentang diriku sendiri Akulah yang maha sombong Akulah keangkuhan itu Dan aku mencintai bayangan ku Seperti cinta pada diriku sendiri Maka datanglah menghiba Menangis dan meratap dan berharap Karena aku dan bayanganku Berkasih kasihan tanpa batasan Dan saat akan rindu Tersungkur lah Dan saat aku tersenyum berbahagialah Maka cintaku abadi Dalam sebutanmu padaku