KERIUHAN DI SENYAP HATI

Katanya cerpen (lagi dari) WIKO ANTONI 

Japri bukan nama yang keren. Bahkan, di kelas SMA dulu, nama itu sering dijadikan bahan candaan. “Japri—jalur pribadi,” kata teman-temannya sambil tertawa. Ironisnya, sekarang, di usia tiga puluh dua, makna jalur pribadi itu benar-benar hidup dalam dirinya: ia mencintai seseorang secara pribadi, diam-diam, dan sepenuhnya rahasia.

Namanya Lusi Prameswari.

Wanita dengan senyum yang seperti spons iklan pasta gigi: terlalu putih untuk jadi nyata, tapi entah kenapa membuat dada Japri berdebar seperti modem zaman 2000-an yang susah konek.

Setiap malam, Japri membuka Instagram Lusi.

Ia scroll dengan hati-hati, seperti orang membuka kitab suci yang ia tahu tak pantas ia baca.

Foto Lusi di kafe, di pantai, di pesta. Caption-nya kadang berisi kalimat motivasi berbahasa Inggris patah-patah:

“Be yourself, but better version of you.”

Japri ingin menulis komentar, “Aku mau jadi versi terbaikku, tapi versiku gak punya uang.”

Namun ia tahan. Ia hanya menekan tombol like, lalu menatap foto Lusi dengan tatapan yang sama seperti menatap mimpi yang tak punya alamat.

Di Facebook, Lusi lebih riuh.

Banyak status berisi pameran halus: mobil baru, tas bermerek, atau undangan gala dinner. Japri tahu semuanya karena ia stalking seperti riset ilmiah. Ia tahu parfum favorit Lusi, jam tangan merek apa yang ia pakai, bahkan jenis makanan yang ia anggap “receh tapi aesthetic.”

Japri hafal semuanya—bukan karena ingin meniru, tapi karena di balik setiap unggahan Lusi, ia merasakan denyut sepi yang entah kenapa terasa akrab.

Kadang, ia menulis puisi di catatan ponselnya:

 “Engkau, perempuan filter premium,

yang menatap dunia lewat kaca depan sedan,

tahukah kau, ada lelaki yang menatapmu lewat layar retak,

menabung keberanian yang tak pernah cukup untuk satu sapa.”

Japri bekerja di toko alat elektronik bekas.

Setiap kali pelanggan datang menawar televisi rusak, ia merasa seperti sedang menawar nasib sendiri. Kadang, saat sepi, ia buka akun Lusi lagi. Dunia maya baginya seperti jendela ke surga yang tiketnya gratis tapi tak bisa dimasuki.

Suatu kali, temannya bercanda,

 “Pri, ngapain liatin cewek sosialita mulu? Gak level bro!”

Japri cuma nyengir. Ia ingin menjawab,

“Cinta bukan soal level, tapi soal sinyal. Kadang sinyalnya kuat, cuma jaringannya gak diizinkan.”

Setiap malam ia menatap notifikasi story Lusi.

Ia tahu jam berapa Lusi bangun, kapan ke gym, kapan tidur. Tapi Lusi tak pernah tahu Japri ada di dunia yang sama. Dunia yang tak punya filter, hanya debu dan keringat.

Yang paling menyiksa bukan karena tak bisa memiliki,

tapi karena selalu merasa dekat tanpa pernah benar-benar di sana.

Ia seperti bayangan yang tahu dirinya bukan cahaya, tapi tetap setia mengikuti arah yang sama.

Di malam minggu, saat Lusi upload foto di rooftop bar dengan caption, “cheers for the real one 💋”,

Japri menatap layar ponselnya lama sekali.

Ia ingin menulis komentar:

 “Real one itu siapa, Lus? Orang yang bayar tagihanmu atau orang yang diem-diem doa kamu bahagia tanpa balasan?”

Tapi lagi-lagi, ia hanya tersenyum getir, meletakkan ponsel, dan menulis lagi di catatan kecil:

 “Cinta ini kayak kuota malam,

aktif di jam sepi,

tapi gak bisa dipakai buat nyentuh.”

Kadang, ia membayangkan: kalau suatu hari mereka bertemu,

apakah Lusi akan mengenali lelaki yang tiap hari like tanpa disadari?

Atau malah menatapnya seperti spam tak dikenal di kolom komentar?

Namun sejauh ini, Japri tetap bertahan dalam keheningan.

Ia mencintai seperti seorang programmer mencintai bug yang tak mau diperbaiki—

karena justru di sanalah keindahan kekacauan hidupnya.

Dan malam itu, di bawah lampu toko yang mulai redup,

Japri berkata pelan pada dirinya sendiri:

 “Mungkin aku bukan laki-laki yang bisa datang bawa bunga… tapi aku bisa mencintaimu tanpa bikin kau takut. Itu pun sudah cukup.”

Lalu ia tersenyum kecil, menutup layar ponsel yang penuh gambar Lusi,

dan menatap bayangannya di kaca etalase.

Untuk sesaat, ia merasa bodoh.

Tapi di kebodohan itulah ia menemukan makna kecil tentang manusia:

bahwa kadang cinta paling murni justru cinta yang tak pernah sempat disampaikan.

Lusi Prameswari tidak pernah benar-benar ingin jadi sosialita.

Tapi sejak dunia menilai manusia dari jumlah followers dan warna lipstik, ia belajar bahwa menjadi terlihat bahagia lebih penting daripada benar-benar bahagia.

Ia bukan gadis miskin — hanya gadis yang lahir dari keluarga biasa di tengah dunia yang menuntut luar biasa.

Ayahnya pensiunan pegawai kecamatan, ibunya guru SD.

Tapi di media sosial, Lusi tampil seperti pewaris kerajaan parfum:

mobil mewah, pesta eksklusif, liburan ke luar negeri (yang kadang hasil endorse setengah bohong).

“Yang penting tampil dulu, realitas urusan nanti,” begitu prinsipnya.

Lusi tahu hidup ini panggung, dan ia pemain utama dalam drama yang diciptakannya sendiri.

Namun panggung itu mahal, bro.

Lipstik Chanel tak bisa dibayar dengan senyum,

dan sewa apartemen Sudirman tak bisa ditukar dengan puisi.

Maka ketika seorang “Om Budi” menawarinya sponsorship pribadi — Lusi sempat ragu. Tapi hanya sebentar.

Sebab dunia tak menunggu perempuan miskin berpikir lama.

Awalnya hanya makan malam “bisnis.”

Lalu hadiah iPhone baru.

Lalu tiket ke Singapura.

Lalu, tubuhnya ikut dalam kontrak yang tak tertulis tapi jelas.

Lusi bukan bodoh. Ia tahu ia menjual sebagian harga diri untuk membeli sisa harga hidupnya.

Ia berkata pada dirinya:

 “Aku bukan pelacur. Aku hanya investor di pasar ilusi.”

Setiap kali ia buka Instagram dan melihat like membanjir,

ia merasa semua dosa lunas.

Netizen menyebutnya gorgeous, classy, glowing.

Tak ada yang tahu parfum yang ia pakai menutupi aroma penyesalan.

Kadang, di tengah pesta, ia termenung sejenak.

Lelaki tua di sampingnya sedang tertawa dengan gigi emas berkilau,

sementara pikirannya melayang pada masa kecil — saat ia masih berlari di halaman sekolah, bermimpi jadi guru tari.

Sekarang ia menari di panggung berbeda, dengan musik yang tak bisa ia pilih.

Namun dunia digital kejam dalam bentuk yang lembut.

Setiap posting baru menuntut level baru.

Setiap like memaksa Lusi jadi lebih mahal dari kemarin.

Dan di situlah cinta tak lagi mungkin — karena bagaimana mungkin mencintai kalau setiap sentuhan harus punya harga?

Suatu sore, Lusi menatap cermin.

Ia mencoba tersenyum seperti di foto-foto,

tapi yang ia lihat hanya wajah lelah yang disulap lampu ringlight.

Ia menatap dirinya lama-lama, lalu tertawa kecil:

“Aku bahkan gak tahu siapa yang kulihat sekarang.”

Namun, bahkan di tengah kehancurannya sendiri,

ada kebanggaan aneh yang membuatnya bertahan.

Ia tahu, di antara ribuan mata yang menatap layar,

pasti ada satu dua orang yang benar-benar kagum, bukan karena hartanya, tapi karena pesonanya.

Dan salah satu mata itu milik seorang lelaki pemalu bernama Japri — meski ia tak tahu siapa itu.

Suatu malam, Lusi membaca DM masuk.

Akun dengan nama aneh — @JapriSendiri — menulis pelan:

 “Aku gak ingin punya apa yang kamu punya, aku cuma ingin tahu apa kamu bahagia di dalam semua cahaya itu?”

Lusi tidak membalas. Ia hanya tersenyum kecut, lalu menutup pesan itu.

Tapi anehnya, kalimat itu menghantuinya berhari-hari.


Sementara “Om Budi” makin menuntut.

Katanya, “Kamu harus ikut aku ke Bangkok, Lus. Ada pesta, banyak kenalan penting.”

Lusi mengangguk, tapi di dalam dadanya ada suara kecil yang berbisik,

“Kapan terakhir aku tertawa karena tulus, bukan karena bayaranku naik?”

Namun dunia seperti kamera: ia hanya merekam wajah yang menghadapnya.

Dan Lusi terlalu takut membelakangi kamera, karena berarti kehilangan semua yang telah ia bangun.

Setiap langkahnya semakin jauh dari rumah,

semakin jauh pula ia dari dirinya sendiri.

Dan di setiap malam hotel berbintang,

ada sepotong kesepian yang tak bisa dibeli — bahkan dengan berlian sekalipun.

Mall itu seperti candi modern — orang-orang datang bukan untuk berdoa, tapi untuk meyakinkan diri bahwa mereka masih punya arti.

Dan di antara ribuan peziarah gaya hidup itu, berjalanlah seorang lelaki bernama Japri — dengan kemeja kotak yang disetrika ibu dan sepatu yang warnanya sudah lebih pudar dari semangatnya.

Hari itu ia sedang “window shopping.”

Bukan karena mau beli, tapi karena jendelanya ber-AC dan gratis.

Lalu dunia bergetar.

Di depan butik Louis V. — Japri melihat Lusi.

Sosok yang selama ini cuma hidup di layar 6,7 inci kini ada di depannya, bernafas, tertawa, dan — ya Tuhan — bahkan aroma parfumnya terasa seperti lagu cinta yang belum diunduh.

Japri langsung panik.

Tangan dingin, keringat keluar, jantungnya ngetik Morse code.

Ia berpikir keras: Ngapain gue di sini? Kenapa gak di toko elektronik aja? Kenapa Tuhan nyuruh aku ketemu dia hari ini?

Tapi sebelum otaknya sempat reboot, langkah kakinya sudah maju sendiri.

Ia pura-pura lihat jam tangan, pura-pura nyari toko, pura-pura gak gugup.

Tapi mukanya malah seperti mahasiswa baru yang salah masuk ruang ujian.

“Eh... Lusi ya?” katanya dengan suara yang nyangkut di tenggorokan.

Lusi menatap, agak kaget, lalu tersenyum tipis — senyum yang lebih sopan daripada tulus.

“Iya, kamu siapa ya?”

Japri langsung blank.

Seluruh data stalking selama bertahun-tahun seakan terhapus.

 “Aku... Japri. Pernah DM kamu, eh maksudnya... kayaknya gak penting, ya. Hehe.”

Lusi mendadak tertawa kecil, lalu melirik dari ujung mata ke bawah—menilai sepatunya, bajunya, dan dompet yang entah kenapa mencuat dari saku dengan pita merah diskon Alfamart.

“Oh... kamu yang pernah nulis DM aneh itu ya? Haha, lucu juga sih... tapi please ya, next time jangan halu gitu. Dunia aku beda, ngerti kan?”

Kalimat itu jatuh seperti sendok di lantai foodcourt — bunyinya kecil, tapi memalukan banget.

Japri nyengir kaku, mencoba menjawab,

 “Oh iya... maaf, saya cuma... ya, pengagum diam-diam aja. Gak niat ganggu.”

Tapi Lusi belum selesai.

“Mas, pengagum itu bukan kayak gini caranya. Ini mall, bukan TikTok Live! Gila aja, aku bisa viral kalau dilihat orang. Udah deh, mending balik, beli parfum buat diri sendiri biar gak kalah sama aku. Bye!”

Dan di situ, semua harga diri Japri rontok kayak kaca smartphone jatuh tanpa tempered glass.

Ia melangkah mundur pelan, menunduk, dan menelan malu seperti obat pahit yang kadaluarsa.

Di belakangnya, Lusi sudah sibuk lagi selfie di depan kaca butik.

Caption-nya nanti berbunyi:

“Stay humble, even when people test your patience 💅🏻✨.”

Ironi pun bertepuk tangan di antara etalase tas bermerek.

Japri keluar mall dengan langkah konyol tapi lirih.

Ia menatap langit parkiran yang pucat dan berkata pelan,

“Ternyata filter gak cuma buat foto. Ada juga buat hati.”

Tapi anehnya, ia gak marah.

Ia cuma merasa seperti boneka salju di tropis — gak cocok, tapi tetap berusaha gak meleleh.

Ia malah tertawa kecil sendiri, sadar betapa konyolnya dirinya.

“Cinta memang buta, tapi kalau cinta juga miskin... itu cacat ganda.”

Dan di kejauhan, Lusi masih sibuk dengan story-nya, tak tahu bahwa laki-laki yang barusan ia hina adalah satu-satunya orang yang pernah benar-benar mendoakan kebahagiaannya tanpa pamrih.

Tiga bulan setelah kejadian di mall, dunia berjalan seperti biasa — kecuali bagi Lusi.

Hidupnya mulai terasa berat.

Om Budi tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Katanya ke Bangkok, tapi faktanya entah di mana.

Sementara cicilan apartemen berjalan terus, gaya hidup menagih konsistensi, dan wajahnya harus tetap bersinar di setiap unggahan.

Lusi mulai kelelahan jadi dirinya sendiri.

Ia mencoba tidur, tapi matanya sibuk menghitung engagement rate.

Ia mencoba makan, tapi pikirannya sibuk menghitung brand deal yang batal.

Hingga malam itu datang.

Ia menyetir sendiri pulang dari pesta, sedikit mabuk, sedikit letih, dan sangat kesepian.

Langit Jakarta sedang hujan, jalanan berkilau seperti kaca.

Lusi menatap bayangannya di kaca spion dan berbisik,

 “Aku cantik, aku sukses, aku dicintai…”

Tapi sebelum kata “dicintai” selesai, mobilnya menabrak pembatas jalan.

Suara besi beradu seperti jerit yang tak sempat jadi doa.

Dan semua gelap.

Beberapa minggu kemudian, rumah sakit menjadi rumah baru bagi Lusi.

Wajahnya diperban hampir seluruhnya, seperti mumi yang pernah punya masa lalu glamor.

Operasi plastik gagal mengembalikan kecantikan lamanya.

Para “teman sosialita” hilang seperti notifikasi setelah paket data habis.

Yang datang hanya bunga-bunga tanpa nama, sebagian dari merek sponsor yang dulu ia promosikan.

Dan di suatu sore yang sepi, langkah ragu terdengar di depan pintu.

Japri datang — membawa sebungkus buah dan doa.

Ia berdiri lama di depan kamar, menatap nama “Lusi Prameswari” di papan pasien.

Tangannya gemetar.

Ia tahu mungkin kedatangannya tak diinginkan, tapi hati kadang keras kepala pada logika.

Perawat membuka pintu, “Silakan, Mas. Dia jarang dijenguk, mungkin senang ada tamu.”

Japri masuk pelan.

Lusi menatapnya — atau mencoba.

Separuh wajahnya masih bengkak, tapi mata itu tetap sama: tajam dan jernih.

Ia sempat terdiam, lalu tertawa kecil yang terdengar pahit,

 “Oh… kamu yang dulu di mall itu ya? Kok bisa kamu datang ke sini? Mau lihat karma beraksi?”

Japri meletakkan buah di meja.

 “Enggak, Lus. Aku cuma mau bilang… dunia memang kejam, tapi gak semua orang jahat. Aku cuma pengen ngasih tahu kamu gak sendirian.”

Lusi menatapnya lama, lalu tersenyum getir.

 “Sendirian itu udah bagian dari hidupku, Japri. Aku punya ribuan pengikut, tapi gak satu pun yang ngirim pesan tanya aku masih hidup atau enggak.”

Japri duduk di kursi, menatap lantai.

 “Aku juga sering sendirian. Tapi entah kenapa, waktu lihat kamu kayak gini, aku gak pengen kasihan. Aku cuma pengen nemenin.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa menusuk hati Lusi.

Ia hampir menangis, tapi air matanya sudah kering oleh banyak hal — termasuk operasi dan kesedihan.

Beberapa hari kemudian, Japri datang lagi.

Ia bawa buku, buah, dan cerita.

Kadang ia bacain berita lucu, kadang ia cuma duduk diam.

Dan setiap kehadirannya pelan-pelan mengikis lapisan gengsi yang dulu setebal fondation di wajah Lusi.

Suatu sore, Lusi berkata pelan,

 “Japri… aku dulu jijik lihat kamu. Kamu tahu kenapa?”

Japri tersenyum kecil, “Karena aku miskin dan culun?”

Lusi menggeleng, “Bukan. Karena kamu nyata.”

Japri menatapnya bingung.

 “Aku hidup terlalu lama di dunia palsu, Pri. Setiap orang yang dekat padaku maunya sesuatu: uang, tenar, atau posisi. Kamu datang cuma bawa buah dan perhatian. Itu nyakitin egoku… tapi nyembuhin hatiku.”

Japri diam.

Ia tak tahu harus menjawab apa.

Jadi ia hanya menggenggam tangan Lusi — tangan yang dulu halus dan wangi, kini penuh bekas luka dan dingin.

Namun justru dari situ, Lusi merasakan sesuatu yang tak pernah ia beli: ketulusan.

Beberapa bulan kemudian, Lusi keluar dari rumah sakit.

Wajahnya tak lagi seperti dulu — sebagian cacat permanen.

Ia berhenti main Instagram, menutup semua akun, dan mulai menulis catatan di buku kecil.

Di halaman pertama ia menulis:

 “Dulu aku hidup dari pandangan orang lain. Sekarang aku belajar menatap diriku sendiri.”

Ia mulai bekerja di yayasan anak-anak disabilitas.

Ia mengajar menari — dengan wajah yang tak lagi cantik, tapi gerakannya masih punya jiwa.

Kadang orang memandangnya aneh, tapi ia sudah kebal terhadap tatapan.

Japri sering datang membantu, memperbaiki sound system, membawa snack untuk anak-anak.

Hubungan mereka tumbuh pelan — tanpa drama, tanpa filter, tanpa pamer.

Sampai suatu sore, di bawah langit senja yang lembut, Lusi bertanya,

 “Japri, kamu gak malu jalan bareng aku sekarang?”

Japri tertawa kecil,

“Aku malah bangga. Dulu aku cuma bisa lihat kamu lewat layar, sekarang aku bisa lihat kamu apa adanya — dan itu lebih indah dari semua foto yang pernah kamu upload.”

Lusi terdiam, lalu menatap langit.

 “Lucu ya, dulu aku pikir cinta itu harus sempurna. Tapi ternyata cinta sejati tuh kayak luka: gak indah dilihat, tapi bikin kita manusia.”

Japri menatapnya,

“Mungkin karena luka juga, aku bisa deket sama kamu.”

Mereka tertawa kecil.

Dunia tak memberi mereka akhir bahagia versi dongeng —

tapi memberi mereka sesuatu yang lebih jujur: ketenangan.

Malam itu, saat Lusi menulis di buku hariannya, ia menuliskan:

 “Aku pernah hidup di cahaya palsu, lalu jatuh ke gelap. Tapi di gelap itulah, ada seseorang yang menyalakan lilin kecil bernama keikhlasan. Namanya Japri.”

Dan di luar jendela,

Jakarta tetap sibuk dengan cahaya, iklan, dan pameran hidup palsu.

Tapi di satu sudut kecil kota itu,

dua manusia yang pernah tersesat dalam gengsi kini menemukan rumah bukan di wajah, bukan di status,

tapi di hati yang berani mencintai tanpa syarat.


RS kol Abunjani 20-10-25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJAN MALAM RINDU

RANTAU SANG LARAS NOVELLA WIKO ANTONI