HUJAN MALAM RINDU
HUJAN MALAM RINDU
(Katanya Cerpen oleh Wiko Antoni)
Hujan turun malam itu. Lembut, tapi mengguncang dada Rantau.
Ia duduk di teras rumah kayu yang nyaris lapuk, menatap cahaya lampu yang bergoyang karena angin. Di dalam rumah, Laras — istrinya — menanak nasi sambil bersenandung lirih. Suara itu, seharusnya menenangkan, tapi justru membuat dada Rantau sesak.
Entah sejak kapan ia mulai meragukan cinta istrinya.
Bukan karena Laras berubah, tapi karena dirinya sendiri yang mulai goyah.
Setiap malam, ia merasa jauh — seperti ada tembok tak terlihat di antara mereka. Laras tetap lembut, tetap setia, tapi entah kenapa senyum itu terasa terlalu sabar untuk seorang wanita yang benar-benar mencinta. Apakah ia hanya menahan demi status istri?
Pertanyaan itu menampar jiwanya tiap kali Laras memeluknya dalam doa malam.
Lalu datanglah Hani — wanita kota yang dulu sempat memuja puisinya.
Hani bukan sembarang wanita. Cantik, berani, dan tahu cara bicara yang menembus celah keyakinan.
Ia menulis pesan pendek di ponselnya:
“Kau pantas dicinta, Rantau. Istrimu terlalu biasa untuk hati seperti punyamu.”
Kata-kata itu seperti bara kecil yang jatuh ke jerami kering.
Beberapa kali Rantau menolak bertemu, tapi akhirnya — ia kalah.
Malam itu, mereka duduk di mobil Hani, di bawah deras hujan. Bau parfum Hani bercampur dengan uap kaca yang buram. Ia menatap wajah wanita itu — terlalu dekat, terlalu berani.
Dan ketika bibir Hani hampir menyentuhnya, Rantau menunduk, menggigil.
Air matanya menetes, bukan karena rindu, tapi karena malu.
“Aku berdosa,” katanya lirih.
“Bukan pada Laras saja… tapi pada Tuhan yang menitipkan Laras padaku.”
Hani menatapnya, tak paham. Tapi di mata Rantau, dunia sudah berhenti berputar.
Ia keluar dari mobil, berjalan di bawah hujan yang menusuk tulang.
Langit malam itu seperti ikut menangis.
Ia pulang dengan langkah gontai, membawa rasa bersalah yang menetes di setiap langkah.
Di depan rumah, Laras berdiri menunggu. Basah, tapi tersenyum.
“Kau kehujanan,” katanya pelan, mengambil handuk dari jemuran.
Rantau tak menjawab. Ia memeluk Laras begitu saja.
Kencang. Panas.
Pelukan itu bukan karena cinta yang baru tumbuh, tapi karena rasa malu pada Tuhan yang menyadarkan cinta yang lama ia abaikan.
Laras terdiam.
Ia tahu sesuatu telah terjadi, tapi ia memilih tidak bertanya.
Hanya satu kalimat keluar dari bibirnya:
“Kalau kau lelah mencari, berhentilah di hatiku. Aku masih di sini.”
Dan malam itu, di tengah hujan yang deras, Rantau menangis di dada istrinya.
Ia merasa kecil. Ia merasa hina. Tapi untuk pertama kalinya, ia juga merasa utuh.
Dalam doanya ia berkata,
“Ya Tuhan, aku telah diburu dua cinta: satu menuntut keindahan, satu menuntut keikhlasan. Kini aku tahu, yang sejati tak pernah menuntut — ia hanya menunggu, dalam diam, seperti Laras.”
Sejak malam itu, ia tak pernah menulis puisi cinta lagi.
Ia hanya menulis doa.
Hujan pun terus turun, tapi kini ia tak lagi mendengarnya sebagai isyarat kesedihan.
Bagi Rantau, setiap tetes hujan adalah kalimat maaf yang turun dari langit —
dan di setiap tetesnya, ia mencium aroma kasih yang tak bertepi.
Pagi datang pelan-pelan. Embun menempel di daun jati di belakang gubuk Rantau. Laras duduk di beranda, mengelus rambutnya yang sudah mulai beruban. Di depannya, Hani datang. Tidak dengan make up, tidak dengan gaun mahal seperti dulu. Hanya dengan wajah polos yang tampak habis menangis.
Ia menunduk. Suara langkahnya berat.
“Aku tahu... aku hanya uap di matamu,” katanya, hampir berbisik.
“Tapi izinkan aku melihat kau bahagia, walau bukan denganku.”
Laras tidak marah. Ia hanya memandang perempuan itu seperti memandang dirinya sendiri.
“Kau tidak merebut apa-apa, Hani,” ujarnya lembut. “Yang merebut hanyalah keinginan kita masing-masing.”
Hani menangis, dan di sanalah Rantau muncul — diam, dengan wajah letih tapi jernih.
Hujan kecil turun lagi, seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi.
Mereka bertiga berdiri di bawah naungan yang sama, tapi mata mereka memandang arah yang berbeda.
Tidak ada lagi amarah. Hanya penyerahan.
Di hati Rantau, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia duga: kedua wanita itu menerima “diduakan” bukan karena lemah, tapi karena mereka lebih kuat darinya.
Hani berkata,
“Aku dulu mencintaimu karena ingin dimengerti. Tapi sekarang, aku tahu — cinta bukan untuk memiliki, tapi untuk memulangkan.”
Laras menunduk, menatap tanah basah.
“Dan aku mencintaimu karena Tuhan menitipkanmu padaku. Tapi bila titipan itu harus kembali, aku pun akan belajar ikhlas.”
Rantau tak kuasa berkata apa pun. Air matanya jatuh, menetes ke tanah, bercampur dengan hujan.
Ia ingin berlutut — bukan kepada wanita-wanita itu, tapi kepada Tuhan yang menulis semua ini dengan tangan penuh rahasia.
Dan ketika Hani berpamitan, Laras justru menggenggam tangannya.
“Jangan pergi jauh. Kadang Tuhan mempertemukan kita bukan untuk memiliki, tapi untuk saling menyembuhkan.”
Mereka berdua menangis — dua perempuan yang seharusnya menjadi saingan, kini justru saling memeluk dalam ketulusan.
Rantau memalingkan wajah. Ia merasa telanjang di hadapan dua jiwa yang begitu murni.
Malam itu, ia menulis di dinding gubuknya dengan arang:
“Dua cinta yang tak menuntut, adalah dua sayap yang mengangkatku dari tanah paling rendah menuju langit paling tinggi.”
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Rantau mulai jarang bicara, tapi senyumnya lebih mudah muncul.
Hani pergi mengajar di sebuah sekolah kecil di desa sebelah. Laras tetap setia di sampingnya, menanak nasi, menulis di sela waktu, menenangkan hatinya dengan zikir.
Suatu sore, ketika matahari hendak turun, Laras berkata:
“Tahukah kau, Rantau? Aku tak pernah merasa diduakan. Karena di hatiku, Tuhan selalu di antara kita. Mungkin itulah sebabnya aku bisa memaafkanmu bahkan sebelum kau salah.”
Rantau menatap istrinya lama.
“Dan aku pun baru tahu, Laras... cinta sejati itu bukan tentang siapa yang memiliki lebih banyak tempat di hati, tapi siapa yang berani kosong agar cinta Tuhan bisa tinggal di situ.”
Angin sore berhembus, membawa aroma tanah basah dan doa yang belum selesai.
Hani, di kejauhan, berdiri di tepi jalan, memandangi kabut turun dari perbukitan. Ia tersenyum.
Dalam hatinya, ia berkata:
“Aku bahagia bukan karena dimiliki... tapi karena pernah mencintai dengan cara yang tidak lagi menyakiti.”
Langit sore itu kelabu. Hujan turun seperti doa yang tak bertepi.
Di tengah kampung, di bawah pohon beringin yang nyaris roboh, berdiri sebuah mushalla tua. Dindingnya retak, catnya mengelupas, tapi dari dalamnya terdengar suara lirih — suara Rantau, yang sedang shalat.
Sujudnya lama.
Seolah ia ingin menahan dunia agar berhenti berputar.
Kedua matanya sembab, bibirnya bergetar.
“Ya Allah...
Ampuni aku yang mencintai tanpa paham caramu mencintai.
Aku ingin pulang, tapi terlalu banyak hati yang kutinggalkan dalam luka.”
Suara itu gemetar, tapi penuh cahaya.
Dari luar jendela, Hani berdiri menatap. Laras datang dari arah lain. Dua perempuan itu tak sengaja bertemu di tempat yang sama — tempat cinta mereka bersujud.
Mereka tak saling bicara, hanya menatap tubuh Rantau yang tersungkur di atas sajadah lusuh.
Air mata menetes tanpa suara.
Laras berbisik, “Dia masih saja memohon ampun, padahal yang paling luka adalah dia sendiri...”
Hani menggenggam tangannya, “Aku yang salah… aku yang membuatnya menanggung dosa yang tak seharusnya ia tanggung.”
Hujan makin deras.
Angin meniup tirai mushalla, dan keduanya masuk perlahan.
Rantau kini bersandar di tembok, lemah, matanya setengah terbuka.
Ia tersenyum melihat keduanya datang.
“Ah... kalian berdua datang juga. Akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Aku ingin minta maaf bukan untuk hidup, tapi untuk mati dengan damai.”
Laras menangis, menatap wajah yang dulu ia cintai dengan rasa yang terlalu dalam untuk disebut kata.
“Kenapa kau tak bilang kalau kau sakit, Rantau?”
Ia hanya menggeleng pelan.
“Aku takut kalian datang karena kasihan, bukan karena cinta…”
Hani berlutut, menggenggam tangannya yang dingin.
“Kalau pun aku datang karena kasihan, itu pun kasih dari Tuhan. Biar kasih ini jadi jalan pulangmu.”
Rantau tersenyum samar.
“Jangan menangis. Kalian tak bersalah. Aku yang bodoh — mencoba mengatur takdir, padahal aku cuma penumpang yang disetir oleh Tuhan.”
Azan maghrib berkumandang.
Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya goyah. Laras menopangnya, Hani memeluknya dari sisi lain.
Dan di antara takbir dan tangis, Rantau rebah — senyum di wajahnya tak hilang, seolah ia menemukan rumahnya di dada dua wanita yang akhirnya berhenti bersaing, dan mulai saling mengasihi.
Laras mencium keningnya.
“Pergilah, kekasih... Tuhan sudah menunggumu.”
Hani menatap langit, menahan isak.
“Kau menang, Rantau. Kau mencintai kami tanpa pernah benar-benar memiliki kami.”
Hujan berhenti.
Cahaya jingga memantul di kubah kecil mushalla itu.
Dua wanita saling memeluk di atas tubuh lelaki yang pernah mereka rebutkan, kini mereka tahu: yang dicintai Rantau bukan mereka — tapi Tuhan yang bersembunyi di balik wajah mereka.
Dari sela daun jati di luar, seekor burung kecil hinggap, mematuk sisa hujan di tanah.
Angin meniupkan aroma basah dan doa yang belum selesai.
“Aku telah memeluk kalian dalam zikirku.
Jangan tangisi jasadku, sebab aku hidup di hati kalian yang telah damai.”
— Catatan terakhir Rantau, ditemukan di sajadah mushalla tua itu.
Alur ceritanya sangat baik
BalasHapus