Postingan

KERIUHAN DI SENYAP HATI

Katanya cerpen (lagi dari) WIKO ANTONI  Japri bukan nama yang keren. Bahkan, di kelas SMA dulu, nama itu sering dijadikan bahan candaan. “Japri—jalur pribadi,” kata teman-temannya sambil tertawa. Ironisnya, sekarang, di usia tiga puluh dua, makna jalur pribadi itu benar-benar hidup dalam dirinya: ia mencintai seseorang secara pribadi, diam-diam, dan sepenuhnya rahasia. Namanya Lusi Prameswari. Wanita dengan senyum yang seperti spons iklan pasta gigi: terlalu putih untuk jadi nyata, tapi entah kenapa membuat dada Japri berdebar seperti modem zaman 2000-an yang susah konek. Setiap malam, Japri membuka Instagram Lusi. Ia scroll dengan hati-hati, seperti orang membuka kitab suci yang ia tahu tak pantas ia baca. Foto Lusi di kafe, di pantai, di pesta. Caption-nya kadang berisi kalimat motivasi berbahasa Inggris patah-patah: “Be yourself, but better version of you.” Japri ingin menulis komentar, “Aku mau jadi versi terbaikku, tapi versiku gak punya uang.” Namun ia tahan. Ia hanya menekan...

Di Batas Fana

Puisi Karya WIKO ANTONI  Berdiri dalam kabut nan tak pernahlah usai  Samar menuju cahaya bercahaya dibalik rahasia  Megeja eja laluan nan menghantarkan ke destinasi  Ini keniscayaan nan bukan kemahuan Dah gigil di gerimis  Dah letih di terjal daki dakian Tak faham akan arah nan mengelam Namun mesti tak suka ia terus bergulir jua Sesak nafas cinta pada pandangan palsu Dikungkung raga nan banyak pinto pintak Namun azali keinginan bagaikan api Membakar namun kian mendinginkan  Itu nan di kata api suci penebusan  Ruang ini adalah ilusi  Tuju itu ketiadaan  Asbab semua nan nyata cumalah bayang Nan menjerat segala ambisi kelam Senyum dikau pagi ini Hanyalah wajah indah namun Tiada  Sebab tanah diukir jadi daging Bukan hakikat abadi nan sejati  Semua nyata adalah maya Segala ada cumalah bayangan  Cinta sejati sang maya suci Tersimpan jauh diketiadaan  Di sunyi sepi Di rahasia demi rahasia  Nan berdegup tiap saat Rantau panja...

HUJAN MALAM RINDU

HUJAN MALAM RINDU (Katanya Cerpen oleh Wiko Antoni) Hujan turun malam itu. Lembut, tapi mengguncang dada Rantau. Ia duduk di teras rumah kayu yang nyaris lapuk, menatap cahaya lampu yang bergoyang karena angin. Di dalam rumah, Laras — istrinya — menanak nasi sambil bersenandung lirih. Suara itu, seharusnya menenangkan, tapi justru membuat dada Rantau sesak. Entah sejak kapan ia mulai meragukan cinta istrinya. Bukan karena Laras berubah, tapi karena dirinya sendiri yang mulai goyah. Setiap malam, ia merasa jauh — seperti ada tembok tak terlihat di antara mereka. Laras tetap lembut, tetap setia, tapi entah kenapa senyum itu terasa terlalu sabar untuk seorang wanita yang benar-benar mencinta. Apakah ia hanya menahan demi status istri? Pertanyaan itu menampar jiwanya tiap kali Laras memeluknya dalam doa malam. Lalu datanglah Hani — wanita kota yang dulu sempat memuja puisinya. Hani bukan sembarang wanita. Cantik, berani, dan tahu cara bicara yang menembus celah keyakinan. Ia menulis pesan ...

HUJAN MALAM RINDU

 Puisi Wiko Antoni  Hujan Malam Rindu Siapa nan menderu bersama air Menerjang bersama angin Menghempas bersama ombak Berdegup Bersama jantung Berbisik di dada terdalam Tentang kecemburuan nan menggelegak Cinta yang diam Dan kesetiaan nan tak menuntut Menggerakkan yang diam Mendiamkan keriuhan Terus terus dan terus Memastikan keabadian Rindu ini api Rindu ini sepi Rindu ini sunyi Rundu ini abadi Kau dan aku satu Dalam cinta sendu Namun tak pernah berpadu Karena itulah kemauan mu Saat daun gugur Kau yang memanah kuasa Saat bumi berguncang Kau nan menatap tajam Gemetarlah daku Terhempas lah hamba Nak pergi kemanapun Hanya dikau jua 17-10-25

RANTAU SANG LARAS NOVELLA WIKO ANTONI

 Katanya Novella Karya Wiko Antoni  RANTAU SANG LARAS Bagian 1 Orang-orang kampung menyebutnya “Si Gila Hening”. Setiap sore, setelah azan asar, ia berjalan pelan ke tepi sungai tua di belakang bukit, tempat batu-batu berlumut dan airnya sejuk seperti doa yang tak pernah selesai. Ia duduk di sana, berbicara pada pepohonan, dan sesekali tersenyum pada aliran air yang berkilau di bawah cahaya matahari sore. “Dia bicara sama jin,” kata anak-anak kampung. “Dia gagal di kota, makanya sembunyi di hutan,” sambung orang dewasa. “Lihat tuh, katanya dulu pintar, sekarang gila,” tawa mereka memotong langit sore. Tapi lelaki itu, Rantau namanya, tidak membalas. Ia hanya menunduk, seperti orang yang sedang mendengarkan bisikan yang lebih dalam daripada suara manusia. Di dadanya, ada luka yang tidak ingin dibicarakan. Di matanya, ada langit yang tak bisa dimengerti. Bertahun-tahun lalu, ia memang meninggalkan kampung itu dengan sumpah: akan kembali membawa nama, harta, dan kehormatan. Dan i...

HINAAN JUA CACIAN

  PUISI Wiko Antoni  HINAAN JUA CACIAN nak cuba bedakan kata tikam atau sanjungan Muaranya sama jua tak ubah kenyataan Nan pasti tinggi bintang bukan hamba Dan rendah lembah bukan pula daku Berseri bunga harum mewangi Ia pula hanya hiasan alam Gersang gurun pasir nan panas Cuma tempat raga merasa seksa Jiwa disitu situ jua Tak beranjak tiada beralih Setiap mata menatap fana Setiap hati tersaput hijab Nan tahu hamba hanyalah Dia Tentang suci dan nodaku Tanah nan dipijak saban hari Dia muasal segala nan terlihat Langit nan tinggi menjulang Hanya kosong tiada batas Dari semua nan dianggap berharga Menyau keinginan dan mata Nyatanya saat ditimang hakekat Tak ada makna sedikit jua Cinta adalah yang utama Diatas semua nan ada berada Sebab dari nan tampak maupun sembunyi Dicipta karana cinta semata adinda Pulang akan jauh Sedang pergi akan kehilangan Maka tetap pada diri Memeluk sang sejati jiwa

Air Pemurnian dan Api Suci

Puisi : Wiko Antoni AIR PEMURNIAN DAN API SUCI Ketika hempas datang menghantam sukma Pastikan adinda aku ada disana Biarlah jasad di seberang lautan Makhrifat jiwa tak pernah jauh Api bakar amarah membakar noda Air mengalir di mata sucikan jiwa Sebab duka maupun suka dua sisi sama Balik berbalik satu jua Usah nak jauh mengembara Balik ke Diri adalah utama Kembara hanya sang sejati cinta Lainnya cuma fatamorgana Di horizon impian manusia fana Kuasa manusia kehendak semata Tak terjangkau usah nak hilang asa Di mahu nan tiada kita Tahu Rahasia sang abadi tertulis suci Jan lelau akan derita Usah menolak tetapan menimpa Cinya sejati dalam diri Tak penah jauh tak pernah pergi Bak itu jua kasih sayangku Brsendi amanah Sang Maha Cinta jatuh tegak berdiri Walaupun goyah melangkah lagi Hidup kematian panjang Sedang ajal adalah awal penghakiman Mari pulang dan berbenah Untuk sadari makna CintaNya rantau panjang 16-10-25